Kamis, 31 Desember 2009

Selamat Liburan Panjang......


Selamat berhari libur di penghujung Tahun 2009, semoga semua berjalan lancar dan selamat ditempat tujuan maupun dalam perjalanan pulang kerumah setelah berlibur. Liburan Tahun baru sebenarnya sudah menjadi kebiasaan bahkan kalau boleh dikatakan "sudah merupakan tradisi" dan masyarakat merayakannya dengan cara beraneka ragam yang jelas kegiatan tersebut tak kalah boros nya dengan acara "MBEDOL KOTA" menjelang Idhul Fitr dan "MBEDOL DESA" setelah 7hari Idhul Fitr berlalu. Pusat perbelanjaan Ramai dan jalanan macet, serta tempat-tempat wisata favorit "full booked", lalu Bahagiakah kita??? setelah semua itu berlalu???

Seringkali pertanyaan itu mengusik relung hati kita" rasa-rasanya Aku tidak dapat menikmati semua hiburan, tempat yang indah, atau tempat-tempat yang penuh gelak tawa"?? Semua uang yang keluar laksana percuma dan waktu yang digunakan seperti terbuang tanpa manfaat, apalagi semua itu uang dari Ngebon Kantor...Wah..wah..wah... lengkap sudah was-was dan resah gulana. Ada yang kosong jiwa ini...PAgi hari semua orang berkompetisi bangun pagi, berhias, berkemas, menstater mobil atau menunggu kendaraan umum, berangkat kerja seperti balapan dengan para tetangga atau orang-orang disekitar, dikantor sibuknya gitu-gitu aja, dan jam 5 tet.. kembali berkemas, berhias bagi perempuan dan berangkat pulang...Lalu..apa sebenarnya yang kita cari? uangkah, harta yang melimpah, status? jabatan atau dengan mengikuti sistem kita menjadi bagian dari dunia ini? bila semua itu didapat so then..? What..?
Lalu kapan kita memikirkan tentang mati... kiri kanan tetangga wafat satu persatu atau pejabat A, artis B atau orang yang tidak kita kenal dipanggil tanpa tanda-tanda, tetapi masih menganggap diri ini pengecualian (bahwa diri ini akan mati tua) lalu..bila Tuhan memanggil tanpa Ba dan Bu seketika...apa yang bisa kita lakukan? minta penundaan? karena kita belum siap?? Jawabnya pasti tidak Bisa...Bila sudah sampai kubur, pedulikah orang-orang yang dulu kita gadang-gadang dan diperjuangkan selama hidup kepada kita untuk mendoakan kita..dialam kubur...? Ya. sesungguhnya bekal diri ini adalah apa yang kita perbuat samasa hidup ; Siapkah kita menghadap kepada yang kuasa??? bila giliran kita entah kapan datangnya tiba-tiba muncul dihadapan??

Haramkan Infotainment, PBNU

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta agar tayangan infotainment gosip dihentikan karena haram. PBNU diminta jangan main melarang dan menggunakan saluran yang ada untuk protes, salah satunya ke Dewan Pers.

Sebelumnya PBNU mendesak tayangan infotainment gosip segera dihentikan. Sebab, pemberitan yang mengobral masalah pribadi dan keluarga orang bisa berdampak buruk bagi masyarakat.

"PBNU minta agar tayangan infotainment di media dihentikan. Karena pemberitaan itu mengobral rahasia keluarga, serta mengaduk aduk hubungan antar anggota keluarga," kata Hasyim dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (25/12/2009).

Menurut pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini, infotainment gosip merupakan pembunuhan karakter orang yang diberitakan. "Karena hal tersebut sama sekali tidak menjadi bagian dari kebebasan dan demokrasi, namun menjadi bagian dari pembunuhan karakter dalam kerukunan atau ketenangan keluarga," jelasnya.

Dalam Islam, lanjutnya, berita gosip merupkan larangan keras yang dihukumi haram. "Bahkan diibaratkan dalam Al-Quran sebagai seorang yang tega memakan daging bangkai saudaranya sendiri dalam mencari rezeki," tutur mantan Ketua PW GP Ansor Jawa Timur ini.

Pawai Hari Anak Yatim



Dalam rangka memperingati Hari Anak Yatim 10 Muharram 1431 H, Himmatun Ayat menggelar Pawai Kreatifitas Anak Yatim Gresik dan Panggung Hiburan, Minggu (27/12). Pawai ini diikuti lima ratusan anak yatim perwakilan Panti Asuhan se-Kabupaten Gresik

Khitanan Masal Anak Piatu

Di tengah rintik gerimis hujan, seluruh anak asuh RZI cabang Balikpapan berfoto bersama mentor dan keluarga di pantai Manggar Balikpapan dalam program KSAB (Kembalikan Senyum Anak Bangsa).

alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421287367053531458" />



Rumah Zakat Indonesia (RZI) cabang Banjarmasin menggelar khitanan massal di 2 kecamatan yaitu Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara 27 dan 28 Desember lalu. Acara ini dalam rangka program Kampung Seha

Pesawat Tabrak Rumah Sakit




Sebuah pesawat penyemprot hama milik Sinar Mas menabrak atap RSU Agusdjam, Ketapang, Kalimantan Barat, Kamis (31/12). Dua orang tewas dalam insiden itu yaitu pilot bernama Sigit dan teknisi bernama Titut.

"Innnalilahi wa inna Ilaihi rojiun telah meninggal dunia Kyai Haji Abdurrahman Wahid di RSCM. Al Fatihah,"




"Innnalilahi wa inna Ilaihi rojiun telah meninggal dunia Kyai Haji Abdurrahman Wahid di RSCM. Al Fatihah,"

Kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, dan Kami doakan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan rahmat Nya. Amin

- Shalat jenazah untuk KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dilakukan di Masjid Ulul Albab dilakukan bergelombang sebanyak 2 kali. Selain dipimpin oleh mantan Ketua PWNU Jatim, Ali Maschan Moesa, salat jenazah juga dipimpin oleh salah satu budayawan, KH Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Setelah disalatkan di Masjid Ulul Albab, jenazah Gus Dur yang berada di dalam peti berselimut bendera Merah Putih itu kembali diusung dan dimasukkan ke mobil jenazah dan dibawa ke kompleks pemakaman yang jaraknya 200 meter dari Ponpes Tebuireng.

Miracle4all.

MT ; Perkara Hutang




Selamat pagi Bapak Mario dan salam super,
Saya ingin menanyakan masalah penyelesaian hutang saya , saya mempunyai hutang pada seseorang dengan jumlah Rp. 350 juta, dengan bunga 5% per bulan dan sekarang saya diminta Rp. 1 M 800 juta, selama 10 bulan dan sertifikat saya yang jadi jaminan sudah dibalik nama.
Apa yang harus saya lakukan Pak Mario karena tidak mungkin saya bisa membayar hutang saya itu sebesar itu.
Terima kasih banyak

Ni Made Wartini, Denpasar


Mario Teguh menjawab:

Ibu Ni Made Wartini yang baik,

Ketahuilah bahwa masa depan Anda tidak pernah tergambar dengan pasti, bila bukan Anda yang menata dan merencanakannya. Bila Anda tidak menyukai kemungkinan dari wajah masa depan Anda, maka susunlah sesuai dengan yang Anda idamkan.
Bila Anda tidak mengetahui bentuk wajah yang baik, perhatikanlah kehidupan baik yang sedang dialami oleh pribadi-pribadi disekitar Anda. Kira-kira seperti itulah bentuk wajah masa depan Anda.
Mohon Anda sadari bahwa, ukuran keberanian yang sesungguhnya, bukan berada pada keberanian kita untuk mati, tetapi keberanian kita untuk hidup dengan penuh – menyambut apapun yang datang menghampiri kita, dan menjadikan itu semua kebaikan bagi kita dan orang lain.
Sebetulnya sebuah kesulitan tidak berniat untuk menyulitkan Anda, dia hanya ingin mengungkapkan kualitas Anda yang sebenarnya.
Mohon diingat, salah satu berkat dari langit kepada Anda yang dikasihi-Nya adalah ketidak-tahuan mengenai resiko, dan ketidak-tahuan mengenai apa yang tidak mungkin Anda lakukan. Sehingga Anda tidak membatasi apa yang mungkin Anda lakukan. Dan dengannya Anda tidak mungkin membatasi yang mungkin Anda capai.


Begitu dulu ya, Ibu Ni Made Wartini. Tetaplah bersemangat.


Salam Super,
Mario Teguh

Agus Kuncoro-Anggia Jelita Sehatnya Puasa dan Sedekah




Perannya sebagai Azzam yang baik dan taat beribadah di serial televisi Para Pencari Tuhan membuat Agus Kuncoro disukai kaum Hawa, terutama ibu-ibu. Sikap baik dan taat beribadah ini tak hanya muncul dalam perannya, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Bersedekah dan puasa menjadi bagian dari hidup sehatnya bersama keluarga.

Agus merasa saat ini sudah siap naik haji. "Haji adalah pengorbanan dan juga kewajiban ketika mampu dan kondisi fisik juga mampu. Ini berarti sudah tidak ada halangan lagi dan jatuhnya wajib," papar pemain film Kun Fayakuun ini.

Rajin puasa

Ketaatan Agus dalam beribadah diakuinya melalui proses cukup panjang. Waktu itu ia menjalani salat karena sebagai umat Islam, ya harus salat. Kemudian beranjak ia bisa melakukannya penuh lima waktu.

"Sampai kemudian pada taraf, setiap kali azan berkumandang, saya harus segera salat," tuturnya.

Peningkatan juga merambah ke ibadah lain. Agus dan istri, Anggia Jelita, selalu berupaya menjalani puasa sunat Senin-Kamis. Saat GHS singgah, mereka tengah menjalani puasa. Agus sendiri sudah menjalani puasa sunat sejak sebelum menikah.

Puasa menjadi cara Agus meningkatkan diri dan belajar mengendalikan hawa nafsu. "Puasa itu mengingatkan kita untuk tidak berlebihan. Apalagi saya gampang khilaf," ujar jebolan Jurusan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta ini.

Untuk putrinya yang baru berusia 1,5 tahun, ibadah ditunjukkan melalui hal sederhana. Ketika Agus maupun Anggia salat dan mengaji, Keirra ada di samping mereka dan melihat orangtuanya beribadah.

Selain itu, Keirra dilatih untuk bersedekah. "Kami jadi membiasakan Keirra untuk berbagi. Membiasakan tangan di atas ketimbang di bawah, itu lebih baik," katanya lagi.

Bersedekah sudah menjadi bagian hidup mereka. "Sedekah itu penting, membawa kebaikan," ujarnya.

Sedekah, menurut Agus, bisa dianalogikan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang makan terus-menerus tanpa membuang sisanya, pasti akan berdampak buruk pada tubuh.

"Kalau tidak dikeluarkan, bisa-bisa harus dipaksa keluar melalui tindakan operasi yang semestinya bisa secara alami. Nggak enak, 'kan? Begitu juga dengan sedekah. Konsepnya hampir seperti yang terjadi pada tubuh," ungkap pria kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1974 ini.

Kenikmatan yang sudah diterima hendaknya memang dibagikan kepada orang lain. Dan yang pasti, harus di tempat yang semestinya agar sedekahnya tepat guna. Percaya saja bahwa bila banyak yang dikeluarkan, masukan akan lebih banyak.

Israel Masih Dilarang Investasi di Indonesia



Jakarta - Israel masih terlarang untuk menanamkan investasinya ke Indonesia. Hal itu bukan karena hubungan diplomatik yang belum terjalin antara Indonesia dengan negara tersebut, melainkan lebih terhadap gejolak yang akan timbul di masyarakat jika hal tersebut terjadi.

Hal ini disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Rabu (30/12/2009).

"Kita dengan Taiwan tidak ada hubungan diplomatik. Tapi banyak investor Taiwan di sini. Itu bukan pembatasan. Tapi kalau Israel ke sini nanti Pak Tifatul (Menkominfo) marah, ramai lagi," jelas Hatta.

Hatta menambahkan sejauh ini hubungan diplomasi Indonesia dengan Israel memang belum terjalin. Bahkan paspor warga Indonesia saja tidak berlaku ke Israel.

"Paspor kita saja tertulis tidak berlaku untuk ke Israel. Itu maksudnya apa? Berarti tidak boleh," ungkap Hatta.

Mengenai sebagian saham Carrefour yang dimiliki oleh BUMN Israel, Hatta mengatakan bahwa hal itu menjadi urusan Komisi Pengawas Persaingan usaha.

"Itu kan soal persaingan usaha, itu urusan KPPU. Tapi kalau terjadi persaingan usaha tidak sehat, itu urusannya dengan KPPU," tambahnya.

Seperti diketahui, Perusahaan Israel, Koor Industries Ltd menambah kepemilikan sahamnya di Carrefour SA. Koor membayar 3% saham peritel asal Prancis itu pada harga 3,5 miliar shekel atau sekitar US$ 886 juta pada Juni lalu.

Dengan tambahan kepemilikan ini, maka Koor akan menjadi pemegang saham terbesar kedua Carrefour SA setelah Blue Capital yang kini menguasai 13,55% saham Carrefour.

Terkait Daftar Investasi Negatif (DNI) Indonesia saat ini, Hatta menyatakan sudah selesai dibahas dan bisa segera dilaporkan. Yang jelas pada DNI kali ini, pemerintah lebih memberikan kepastian pada para investor.

"Sama seperti yang dulu. Kalau yang dulu lebih banyak grey area. Sekarang menjadi lebih pasti," jelas Hatta.

Apa Hikmah Penciptaan Jin Dan Manusia?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Jawaban:

Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengingatkan tentang kaidah umum dalam penciptaan dan syari'at Allah.

Kaidah tersebut disarikan dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."(At-Tahrim:2)

Juga firman Allah, "Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha Bijaksana"(An-Nisa': 42)

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang selaras dengannya yang menunjukkan bahwa dalam setiap ciptaan Allah, dalam syari'at-Nya, dalam hukum-hukum alam-Nya, dan dalam hukum-hukum syari'at-Nya terdapat hikmah. Tidak ada sesuatupun yang diciptakan Allah kecuali mempunyai hikmah, baik dalam perwujudannya maupun pemusnahannya. Tidak ada sesuatupun yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kecuali untuk hikmah tertentu, baik dalam hal yang bersifat wajib, haram maupun mubah. Tetapi hikmah yang terkandung dalam hukum alam dan hukum syariat ini, kadang kita ketahui dan kadang tidak kita ketahui, atau kadang diketahui sebagian manusia dan kadang tidak diketahui oleh sebagian manusia lainnya, sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman yang diberikan Allah kepadanya. Jika semua ini telah jelas maka kami katakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan jin dan manusia mempunyai hikmah yang besar dan tujuan yang mulia, yaitu agar menyembah-Nya, seperti yang difirmankan, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."(Adz-Dzariyat:56)

Kemudian firman Allah, "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (Adz-Dzaariyaat: 115).

Serta firman Allah,"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (Al-Qiyamah:36)

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa dalam penciptaan jin dan manusia, terdapat hikmah yang besar, yaitu menyembah dan beribadah kepada-Nya;yaitu merendahkan diri kepada Allah karena cinta dan mengangungkan-Nya, dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sebagaimana disyariatkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus."(Al-Bayyinah:5)

Itulah hikmah penciptaan jin dan manusia, maka dari itu, barangsiapa yang congkak dan sombong kepada Tuhannya, sehingga enggan beribadah, berarti dia telah menyepelekan hikmah penciptaan manusia ini. Tindakannya itu sekaligus memberikan kesaksian bahwa Allah menciptakan makhluk ini sia-sia. Dia, walaupun tidak secara terus terang berkata demikian, tetapi itulah makna tersirat dari kecongkakan dan kesombongannya sehingga enggan taat kepada Tuhannya.

Apakah Syafaat Itu? Apa Macam-Macamnya?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:

Syafaat berasal dari kata asy-syafa'(ganda) yang merupakan lawan kata dari Al-witru (tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Ini pengertian secara bahasa.
Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak mudharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang itu atau menolak mudharatnya.

Syafaat terdiri dari dua macam:

Macam pertama, syafaat yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahih, yaitu yang ditegaskan Allah Swt dalam Kitab-Nya, atau dijelaskan Rasulullah. Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas; karena Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, "Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?" Beliau menjawab, "Orang yang mengatakan,'Laa ilaaha illallah' dengan ikhlas dalam hatinya."Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, kitab Al-Ilm, bab "Al-Hirsh 'ala Al-Hadits."

Syafaat mempunyai tiga syarat:

Pertama, Allah meridhai orang yang memberi syafaat.

Kedua, Allah meridhai orang yang diberi syafaat.

Ketiga, Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.

Syarat-syarat di atas secara global dijelaskan Allah dalam firman-Nya, "Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpu tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)." (An-Najm:26)

Kemudian firman Allah,"Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya." (Al-Baqarah:255)

Lalu firman Allah, "Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya." (Thahaa: 109)

Kemudian firman Allah, "Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (Al-Anbiya: 28)

Agar syafaat seseorang diterima, maka harus memenuhi ketiga syarat di atas.

Menurut penjelasan para ulama, syafaat yang diterima, dibagi menjadi dua macam:

Pertama, syafaat umum. Makna umum, Allah mengizinkan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang diperkenankan untuk diberi syafaat. Syaaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad saw, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka dari kalangan orang-orang beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.

Kedua, syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad saw dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bias memberikan syafaat hingga mereka dating kepada Nabi saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah di dalam firman-Nya, "Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Al-Israa':79)

Di antara syafaat khusus yang diberikan kepada Rasulullah Saw adalah syafaatnya kepada penghuni syurga agar mereka segera masuk surga, karena penghuni surga ketika melewati jembatan, mereka diberhentikan di tengah jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Hati sebagian mereka bertanya-tanya kepada sebagian lain, hingga akhirnya mereka bersih dari dosa. Kemudian mereka baru diizinkan masuk surga. Pintu surga itu bisa terbuka karena syafaat Nabi saw.

Macam kedua, syafaat batil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memintakan syafaat kepada Allah. Syafaat semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankan-Nya, "Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat." (Al-Mudatstsir:48)

Demikian itu karena Allah tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Allah memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka; karena tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diridhai Allah. Allah tidak meridhai hamba-hamba-Nya yang kafir dan Allah tidak senang kepada kerusakan.

Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, "Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah", (Yunus: 18) adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Bahkan demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh, karena orang-orang musyrik itu meminta syafaat kepada berhala-berhala itu dengan cara yang batil, yaitu menyembahnya. Itulah kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.

Bagaimana Wanita di Surga?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Disebutkan bahwa laki-laki akan mendapatkan bidadari-bidadari dari surga, lalu bagaimana dengan wanita?

Jawaban:

Mengenai kenikmatan yang akan diberikan Allah kepada penghuni surga ini, Allah Swt berfirman, "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fushilat: 31-32)
Kemudian Allah berfirman, "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya." (Az-Zukhruf: 71)

Diketahui bersama bahwa pernikahan merupakan perkara yang diinginkan oleh setiap jiwa, pernikahan itu akan dilangsungkan di surga bagi para penghuni surga baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan akan dinikahkan oleh Allah di surga dengan laki-laki yang menjadi suaminya dulu di dunia, seperti yang difirmankan Allah, "Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'and yang telah engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang mahaperkasa lagi maha Bijaksana." (Ghaafir:40)

Jika dia di dunia belum menikah maka Allah akan menikahkannya dengan orang yang menawannya di surga

Apakah Benar Kebanyakan Penghuni Neraka Wanita?

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Jawaban:


Itu benar, karena Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, "Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyaklah beristigfar yaitu memohon ampun. Karena, aku melihat kaum wanitalah yang lebih banyak menjadi penghuni neraka. 'Seorang wanita yang cukup pintar di anatara mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih banyak menjadi penhuni neraka?' Rasulullah saw bersabda, 'Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu.'Wanita itu bertanya lagi, 'Wahai rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?' Rasulullah saw bersabda,'Maksud kekurangan akal ialah kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mengerjakan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan ramadhan karena haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama'."(Diriwayatkan Al-Bukhori) Ditakhrij oleh Al-Bukhori dalam kitab Al-Haid, bab "Tarku Al-Haid Ash-Shaum", [304], dan Muslim kitab Al-Iman, bab "Bayanu Naqshi Al-Iman Binaqshi Ath-Tha'aat", [79].

Berdasarkan hadits di atas nabi saw menjelaskan bahwa yang menyebabkan mereka banyak menjadi penghuni neraka adalah karena mereka banyak mencela, banyak melaknat, banyak menghina, dan banyak mengingkari suami. Itulah yang menyebabkan mereka lebih banyak masuk neraka.

Apa tanda Kewalian itu (Walyullah)???



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Ada seseorang yang meminta pertongan kepada selain allah dan mengira bahwa dia waliyullah, apakah tanda waliyullah itu? Jawaban:

Tanda-tanda kewaliyan dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, "Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (Yunus: 62-63).

Tanda-tanda kewalian adalah beriman kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya. Barangsiapa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka dia adalah waliyullah. Sedangkan orang yang berbuat syirik, maka dia bukan waliyullah, melainkan musuh Allah seperti yang difirmankannya, "Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 98).

Orang yang memohon kepada selain Allah atau memohon kepada sesuatu yang tidak kuasa mengabulkannya kecuali Allah, maka dia adalah musyrik, kafir dan bukan waliyullah walaupun dia mengaku demikian, bahkan anggapan bahwa dirinya wali tetapi dia tidak bertauhid, tidak beriman dan tidak bertakwa adalah anggapan yang dusta dan bertentangan dengan perwalian.

Nasihat saya kepada saudara-saudara saya yang muslim dalam masalah ini hendaklah mereka tidak tertipu oleh orang-orang yang mengaku wali itu dan hendaklah mereka tetap kembali kepada kitabullah dan sunah nabi yang shahih, hingga harapan, tawakal, dan sandaran mereka hanya kepada Allah semata, sehingga mereka merasa aman, tenang, dan damai. Dengan begitu mereka bisa menyelematkan harta mereka dari perampokan orang-orang yang bertindak khurafat itu. Dengan merujuk kepada Al-Kitab dan sunah, mereka akan terhindar dari keterpedayaan oleh diri mereka sendiri.

Kadang kita temukan, ada di antara manusia yang mengaku dirinya pemimpin atau wali. Jika Anda merenungkan atau memikirkan apa yang mereka lakukan, Anda dapati mereka jauh dari perwalian dan kepemimpinan. Wali yang sebenarnya tidak mungkin mengaku-aku bahwa dirinya wali, sebaliknya dia merasa enggan mendapatkan penghormatan, permuliaan dan sebagainya. Tetapi Anda dapati dia beriman, bertakwa, menyembunyikan identitas, tidak menampakkan diri, tidak suka ketenaran, tidak ingin didatangi manusia, atau dijadikan sandaran, baik karena takut atau berharap. Jika ada seseorang mengaku-aku sebagai wali hanya untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, menjadi tempat kembali dan tempat bergantung, maka sebenarnya, tindakan ini bertentangan dengan takwa dan perwalian. Maka dari itu dijelaskan dalam hadis dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tentang oang yang menuntut ilmu agar disanjung oleh orang-orang bodoh dan didekati para ulama atau agar menjadi pusat perhatian manusia, maka dia akan mendapatkan ancaman begini dan begitu. Pertanyaan ini diperkuat dengan sabda beliau, "Atau untuk memalingkan wajah manusia kepadanya." (Ditakhrij oleh At-Tirmidzi, kitab Al-Ilm, bab "Ma Jaa Fiman Yathlub Bi'ilmihi Ad-Dunya." (2654).

Orang-orang yang mengaku bahwa dirinya wali dan berusaha memalingkan wajah manusia kepadanya, mereka adalah sejauh-jauh orang dari perwalian.

Nasihat saya kepada saudara-saudara saya yang muslim agar mereka tidak terpedaya oleh orang-orang semacam itu dan hendaklah mereka kembali kepada kitabullah dan sunah rasul-Nya, dan hendaklah mereka menggantungkan cita-cita dan harapan mereka kepada Allah semata

Apakah Matahari Mengelilingi Bumi?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban: Dalil-dalil syariat secara lahir mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi, sehingga perputarannya itu menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di muka bumi. Kita tidak bisa membantah makna lahir dari dalil-dalil tersebut kecuali dengan dalil yang lebih kuat, yang memungkinkan kita, menakwilkannya dengan takwil yang lebih kuat dari makna lahirnya. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi sehingga menghasilkan pergantian malam dan siang itu adalah sebagai berikut:

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang hujjah Ibrahim kepada orang yang menyanggah Tuhannya, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."(Al-Baqorah:258)

2. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman tentang Ibrahim, " Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan."(Al-An'am :78)

Yang tenggelam adalah matahari bukan bumi, seandainya yang beredar adalah bumi tentu dikatakan bahwa ketika bumi tenggelam.

3. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, " Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."(Al-Kahfi:17)

Menurut ayat ini yang condong dan bergeser adalah matahari, ini berarti bahwa mataharilah yang bergerak. Jika yang bergerak itu bumi tentu dikatakan, goa mereka bergeser darinya. Begitu juga terbit dan tenggelam disandarkan kepada matahari, ini menunjukkan bahwa seakan-akan mataharilah yang berkeliling, walaupun dalalahnya lebih rendah daripada dalalah firman Allah "condong" dan "bergeser".

4. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya."(Al-Anbiya:33)

5. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam."(Al-A'raf:54)

Dinyatakan bahwa malam meminta kepada siang dan peminta berarti yang datang berikutnya, padahal diketahui bersama bahwa malam dan siang, keduanya mengikuti matahari.

6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."(az-Zumar:5)

Firman Allah,"Dia menutupkan malam atas siang" atau mengelilinginya seperti surban yang mengelilingi kepala. Ini menunjukkan bahwa malam dan siang itu mengelilingi bumi secara bergantian. Seandainya yang berkeliling itu bumi, tentu dikatakan,"menjadikan bumi mengelilingi malam dan siang." Dalam firman Allah"masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan" menjelaskan pernyataan sebelumnya bahwa matahari dan bumi berjalan pada porosnya masing-masing, karena berjalanya sesuatu yang begerak dengan gerakannya lebih jelas daripada sesuatu yang berjalan di tempat tanpa gerak.

7. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya."(Asy-syams:1-2)

Kata talaha (mengiringinya) berarti datang sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa matahari dan bulan berjalan mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berputar mengelilingi keduanya, tidak mungkin bulan mengiringi matahari saja, tetapi kadang bulan akan mengelilingi matahari dan kadang mengelilingi bumi, karena matahari lebih tingi darinya. Berdalil dengan ayat ini memerlukan perenungan.

8. Lalu firman Allah, "Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya."(Yasiin:38-40)

Penyandaran kata "berjalan" kepada matahari dan perjalanannya telah ditetapkan waktunya oleh Allah ini menunjukkan bahwa matahari benar-benar berjalan dengan ketentuan yang canggih sehingga perjalanan itu menyebabkan adanya pergantian malam, siang dan musim. Menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah menunjukkan atas perpindahannya. Seandainya yang berputar itu bumi, tentu manzilah-manzilah itu ditetapkan untuknya, bukan bulan. Ketidakmungkinan matahari mendapatkan bulan dan pergantian malam dan siang menunjukkan adanya gerakan yang terdorong dari matahari, bulan, malam dan siang.

9. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu berkata,'Suatu hari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Tahukah kamu ke mana matahari ini pergi?'Para sahabat menjawab,'Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui'. Lantas Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Perjalanan matahari ini berakhir di suatu tempat yang telah ditetapkan di bawah 'Arsy, lalu merebahkan diri untuk bersujud. Ia tetap berada dalam keadaan tersebut, sehinggalah diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.'Kemudian matahari kembali sehingga dia terbit dan berputar sebagaimana biasa. Matahari terus beredar lagi sehingga sampai di suatu tempat yang di tetapkan di bawah Arsy lalu merebahkan lagi dirinya untuk bersujud. Ia juga tetap berada dalam keadaan demikian hingga diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan kembalilah ke tempat mana kamu datang.'Matahari kembali lagi sehinggalah ia terbit dan berkeliling sebagaimana biasa tanpa diketahui oleh manusia dan berakhir pada tempat yang telah ditetapkan di bawah Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sehingga akhirnya diperintahkan kepadanya,'Bangunlah dan terbitlah di sebelah barat'. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam terus bersabda,'Tahukah kamu kapankah itu akan terjadi? Itu akan terjadi ketika tidak berfaidah lagi iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau tidak berusaha mengerjakan kebaikan terhadap imannya'."(Diriwayatkan Muttafaq Alaihi)

Sabda Rasulullah, "kembalilah ke tempat mana kamu datang, kemudian matahari kembali sehingga dia terbit" menunjukkan secara jelas bahwa matahari mengelilingi bumi yang meyebabkan matahari terbit dan tenggelam.

10. Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menunjukkan adanya penyandaran terbit dan tenggelam kepada matahari, sehingga mataharilah yang mengelilingi bumi, bukan bumi yang mengelilinginya.

Mungkin masih ada dalil-dalil lain yang belum saya ketahui, tetapi apa yang saya sebutkan itu, sudah cukup untuk membukakan pintunya dan sudah cukup untuk memenuhi apa yang saya maksudkan.

Ciri-Ciri Kelompok Selamat



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Apa ciri-ciri dari kelompok yang selamat itu? Apakah jika tidak memenuhi ciri-ciri tersebut dapat mengeluarkan manusia dari kelompok yang selamat ini?

Jawaban:

Ciri-ciri utama bagi kelompok yang selamat itu adalah berpegang kepada ajaran Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dalam bidang akidah, ibadah, akhlak dan mua'malah. Keempat masalah itulah yang menjadi ciri bagi kelompok yang selamat itu. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Dalam bidang akidah kelompok ini berpegang teguh kepada petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dengan bertauhid murni dalam tauhid uluhiyah, rububiyah maupun tauhid asma dan sifat.

Dalam urusan ibadah kelompok ini memiliki keistimewaan: senantiasa berpegang teguh secara sempurna dan menerapkannya seperti yang diajarkan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ; baik dalam jenis, sifat, ukuran, waktu, tempat, maupun sebab-sebabnya. Maka dari itu, Anda dapati mereka tidak membuat bid'ah dalam agama Allah tetapi mereka sangat beradab dihadapan Allah dan Rasul-Nya, tidak menghadap Allah dan Rasul-Nya dengan memasukkan sesuatu yang tidak diizinkan ke dalam masalah ibadah.

Dalam urusan akhlak, Anda dapati mereka berbeda dengan yang lain, karena akhlak mereka yang baik kepada sesama muslim, lapang dada, berwajah manis, sopan bicaranya, mulia, pemberani dan masih banyak lagi akhlak-akhlak mereka yang terpuji lainnya.

Dalam bidang mua'malah (pergaulan) mereka memperlakukan manusia dengan baik dan jujur, seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ,"Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Sekirannya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang dijual belikan, mereka akan mendapat berkat dalam jual beli mereka. Sekiranya mereka menipu dan merahasiakan apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang dijual-belikan akan menghapus keberkatannya."(Al-Bukhari dan Muslim)

Bila tidak memenuhi kriteria-kriteria ini tidak mengeluarkan manusia dari kelompok yang selamat ini, tetapi setiap derajat itu tergantung dari apa yang mereka kerjakan. Kekurangan dalam bidang tauhid mungkin akan mengeluarkannya dari kelompok yang selamat ini, seperti kurang ikhlas dan membuat bid'ah, keduanya dapat mengeluarkannya dari kelompok yang selamat itu.

Adapun kekurangan dalam masalah akhlak dan mua'malah tidak mengeluarkannya dari kelompok yang selamat ini walaupun hal itu mengurangi martabatnya.

Barangkali kita masih membutuhkan penjelasan yang lebih rinci mengenai masalah akhlak ini. Mungkin masalah terpenting yang berkaitan dengan akhlak ini adalah masalah persatuan dan kesepakatan atas kebenaran yang diwasiatkan Allah kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy-Syuura;13).

Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang mencerai-beraikan agama mereka menjadi kelompok-kelompok, maka Muhammad tidak bertanggung jawab terhadap mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, " Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat." (Al-An'am:159).

Persatuan dan kelembutan hati merupakan salah satu ciri khas kelompok yang selamat (Ahlu Sunnah wal Jama'ah) ini. Jika mereka mengalami perselisihan di antara mereka dalam masalah ijtihadiyah, hal itu tidak menyebabkan kedengkian, permusuhan dan amarah di antara mereka, tetapi mereka tetap yakin bahwa mereka bersaudara walaupun mereka berselisih, hingga salah seorang di antara mereka mau sholat menjadi makmum orang yang dilihatnya tidak punya wudhu, tetapi imam yakin bahwa dia punya wudhu.

Seperti halnya jika seseorang di antara mereka sholat di belakang orang yang makan daging onta; sang imam yakin bahwa memakan daging onta tidak membatalkan wudhu; sedangkan makmum berpendapat bahwa itu membatalkan wudhu; tetapi dia berpendapat bahwa sholat di belakang imam itu sah, walaupun menurutnya jika sang imam itu sholat sendirian, sholatnya tidak sah. Semua itu dilakukan karena mereka berpendapat bahwa perbedaan yang muncul dari ijtihad dalam bidang yang diperbolehkan untuk berijtihad, bukanlah perbedaan; karena setiap orang yang berselisih itu telah mengikuti dalil-dalil yang harus diikuti dan mereka tidak boleh melanggarnya.

Di samping itu mereka juga berpendapat bahwa jika saudara mereka berselisih dengan mereka dalam suatu amal karena mengikuti dalil, sebenarnya dia sepakat dengan mereka, karena mereka sendiri juga selalu menyeru agar mengikuti dalil di manapun berada. Sehingga jika ada orang yang berselisih dengannya karena mengikuti dalilnya sendiri, maka sebenarnya dia sepakat dengan mereka, karena mereka menjalankan apa yang mereka serukan yaitu menetapkan hukum berdasarkan Kitabullah dan Sunnah rasulullah.

Tidak diragukan lagi bahwa perbedaan pendapat semacam ini banyak terjadi di kalangan ahlu ilmi, para sahabat dan bahkan pada masa Nabi, tetap tidak seorangpun di antara mereka menyalahkan orang lain. Ketika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pulang dari perang Ahzab, beliau didatangi Jibril dan diberitahu agar pergi ke Bani Qiraidzah yang melanggar janji, maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menyerukan sahabat-sahabatnya seraya bersabda, "Tidak seorangpun di antara kalian boleh sholat kecuali setelah sampai di Bani Quraidzah."

Maka mereka pun keluar dari Madinah menuju Bani Quraidzah hingga mereka ketinggalan sholat Ashar. Ada di antara mereka yang mengakhirkan sholat Ashar hingga mereka sampai di Bani Quraidzah setelak waktu sholat Ashar habis, karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Tidak seorang pun di antara kalian boleh sholat kecuali setelah sampai di Bani Quraidzah".

Tetapi di antara mereka ada yang shalat tepat pada waktunya seraya berkata, "Sesungguhnya Rasulullah menginginkan agar kita segera pergi dan tidak menginginkan agar kita mengakhirkan sholat dari waktunya, dan mereka itulah orang-orang yang benar, namun demikian Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak menyalahkan salah satu dari kedua kelompok itu, dan tidak seorang pun dari kedua kelompok itu yang melakukan permusuhan atau marah karena perbedan mereka dalam memahami nash itu. Maka dari itu saya melihat bahwa yang perlu dilakukan kaum muslimin yang menisbatkan dirinya kepada sunnah harus menjadi satu umat, tidak membuat kelompok-kelompok; yang satu bersandar pada satu kelompok dan yang lainnya kepada kelompok lain dan seterusnya hingga mereka cekcok, bermusuhan dan berseteru karena perbedaan dalam masalah ijtihad. Di sini tidak perlu saya jelaskan kelompok-kelompok mana saja, tetapi setiap orang yang berakal akan memahami sendiri masalah ini.

Saya melihat bahwa kelompok ahlu sunnah wal Jama'ah harus bersatu walaupun mereka berselisih dalam memahami nash sesuai dengan pemahaman mereka sendiri-sendiri, karena masalah ini adalah masalah yang luas, Alhamdulillah. Yang penting hati mereka harus tetap satu dan kalimat mereka satu. Tidak diragukan lagi bahwa musuh-musuh Islam senang jika kaum muslimin bercerai-berai, baik musuh-musuh yang dengan tegas menyatakan permusuhan, maupun musuh-musuh yang berpura-pura masuk Islam atau berpura-pura baik kepada Islam padahal sebenarnya tidak demikian. Maka kita harus senantiasa berpegang kepada ciri keistimewaan ini (persatuan), yang merupakan ciri khusus kelompok Ahlu Sunnah wal Jama'ah, yaitu bersatu dalam kalimat yang satu.

Seseorang Diganggu Syetan dalam Masalah Berkaitan dengan Allah



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Ada seseorang yang diganggu oleh syetan dengan gangguan yang berat dalam masalah yang berkaitan dengan Allah, sehingga dia ketakutan sekali dengan masalah itu,. Apa nasehat Anda untuk orang itu?

Jawaban:

Untuk menghadapi kesulitan penanya, yang takut kepada gangguan syetan itu, menurut saya adalah hendaklah dia diberi kabar gembira bahwa gangguan itu akan membuahkan hasil yang baik, karena gangguan syetan itu terus akan dilancarkan kepada orang-orang mukmin agar akidah mereka yang benar di dalam hati mereka tergoyahkan dan mereka terjerumus kedalam ketimpangan jiwa dan pikiran, kemurnian iman mereka keruh, dan bahkan kemurnian hidup mereka jika mereka beriman.

Keadaan seperti yang dihadapinya itu bukanlah keadaaan yang pertama kali dihadapi oleh orang-orang yang beriman dan bukan pula yang terakhir, tetapi selama di dunia ada orang mukmin, mereka akan selalu menghadapi gangguan seperti itu.Keadaan seperti ini juga pernah dihadapi oleh para sahabat Radhiyallahu Anhum. Disebutkan dalam sebuah hadits:

"Dari Abu Hurairah berkata “'Datanglahnya beberapa orang dari kalangan sahabat kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu bertanya kepadanya, “Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang dibesar-besarkan oleh salah seorang diantara kami sehingga enggan membicarakanannya.'Beliau bertanya, 'Apakah kalian telah menemukan masalahnya? 'Mereka menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda ,'Itulah keimanan yang sharih.’”(Diriwayatkan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Syetan akan datang kepada salah seorang di antara kalian seraya berkata, 'Siapa yang menciptakan ini?siapa yang menciptakan itu?Hingga dia bertanya, 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Jika sampai kepada pertanyaan ini hendaklah dia berlindung kepada Allah dan menahan diri."(Al-Bukhori dan Muslim)

"Dari Ibnu Abbas Radhiyallahhu Anhuma, bahwa nabi Shallallahu Alahi wa Sallam didatangi oleh seorang lelaki seraya berkata, 'Sesungguhnya aku mengalami suatu peristiwa dalam diriku yang jika aku menjadi merpati lebih baik dariku daripada membicarakannya.'Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan masalahnya kepada rasa was-was.'"(Abu Dawud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Al-iman, "Orang mukmin diuji dengan gangguan syetan dan gangguan orang kafir yang meyempitkan dadanya." Seperti yang dikatakan seorang sahabat, "Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang apabila dia jatuh dari langit ke bumi lebih baik baginya daripada membicarakannya." Lalu Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, "Itu adalah keimanan yang sharih."

Dalam riwayat lain disebutkan "Masalah yang sangat besar untuk dibicarakan."Rasulullah menjawab,"segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu dayanya kepada rasa was-was." Atau dia merasa was-was setelah sebelumnya dia sangat benci kepadanya, usahanya menepis kebencian dan rasa was-was dari dalam hatinya itu termasuk keimanan yang sharih, seperti seorang mujahid yang didatangi musuh, lalu dia menang, maka usahanya itu disebut jihad besar."

Kemudian Syaikh berkata, "Maka dari itu sangat wajar jika pencari ilmu dan ibadah mengalami rasa was-was dan syubhat yang tidak dimilki oleh orang lain, karena orang lain tidak menempuh syariat Allah dan manhaj-Nya, tetapi dia menerima hawa nafsunya dalam keadaan lupa dan tidak berdzikir kepada Tuhan-Nya. Itulah yang diinginkan oleh syetan.Berbeda dengan orang-orang yang menghadap Tuhannya dengan ilmu dan ibadah, maka musuh-musuh mereka ingin memalingkan mereka dari Allah.

Saya katakan kepada penanya, jika jelas bagi Anda bahwa gangguan itu berasal dari syetan maka perangilah dia dan kalahkan. Ketahuilah bahwa hal itu tidak akan membahayakanmu sama sekali jika kamu melaksanakan tugas dan kewajiban memeranginya, mengusirnya dan tidak berlindung di belakangnya, seperti yang disabdakan Rasulullah, "Sesungguhnya Allah memberikan maaf umatku jika mereka merasa was-was dalam hati mereka, selama belum dikerjakan ataupun dibicarakan."(Diriwayatkan Muttafaq 'Alaihi).

Jika ditanyakan kepadamu, "Apakah kamu yakin terhadap apa yang menganggunya? Apakah anda sungguh melihatnya sendiri? Mungkinkah kamu menyifati Allah dengannya?" Tentu Anda akan menjawab,"Tidak sepantasnya kita berbicara demikian. Mahasuci Allah, ini adalah kebohongan yang besar, sehingga Anda pasti akan mengingkarinya dengan hati dan lisan Anda, dan Anda termasuk orang yang sangat mengingkarinya. Jadi, hal itu hanya sekedar gangguan dan sesuatu yang terbetik dalam hati, serta jendela syirik yang mengalir pada diri anak Adam melalui peredaran darah, untuk membimbangkan agamanya.

Maka dari itu Anda dapati banyak hal tidak berharga yang dihembuskan syetan ke dalam hatimu, yang tujuannya tidak lain untuk merusak keimanan dan menimbulkan keraguan di dalamya. Misalnya kamu mendengar di dalam Al-Quran berita tentang adanya kota besar dan penting yang penuh dengan penduduk dan bangunan yang ada di timur dan barat, yang pada saat itu tidak terbetik dalam hatimu rasa ragu tentang keberadaannya atau cacatnya kota itu dan sekarang kota itu telah hancur dan binasa serta tidak bisa di huni lagi. Tetapi tiba-tiba syetan membisikkan keraguan kepada Anda sehingga Anda meragukannya. Tujuan syetan dalam hal ini bukan sekedar meragukan manusia terhadap keyakinannya itu, melainkan syetan memiliki tujuan yang lebih besar dalam merusak keimanan orang Mukmin Yaitu berusaha dengan tipudayanya untuk memadamkan cahaya ilmu dan petujuk dalam hatinya, serta menjerumuskannya ke dalam keraguan dan kebingungan. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menjelaskan tentang obat yang dapat menyembuhkan, yaitu sabda beliau, "Hendaklah dia berlindung kepada Allah dan menahan diri."

Jika seseorang dapat menahan dirinya dan terus beribadah kepada Allah untuk mencari keridhaan dan kecintaan di sisi-Nya, maka hilanglah keraguan itu dengan kekuatan Allah, sehingga kamu dapat menepis semua keraguan yang ada dalam hatimu. Jika kamu meyembah Allah, berdoa kepadanya dan mengagungkan-Nya, lalu kamu mendengar seseorang berkata miring tentangnya, maka Anda bisa menepisnya jika memungkinkan. Jadi apa yang menganggu Anda itu, sebenarnya tidak realistis tetapi hanya gangguan–gangguan perasaan yang tidak ada pangkal ujungnya, seperti halnya jika seorang yang bersih hatinya lalu dia membuka bajunya untuk dicuci. Setelah dijemur dan kering dia ragu-ragu apakah baju itu bersih atau najis.Jangan-jangan terkena najis sehingga tidah sah untuk sholat. Seharusnya dia yakin dan tidak bersikap demikian.

Nasehat saya untuk mengatasi masalah gangguan syetan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut;

1. Berlindung kepada Allah dan mengakhirkan semua rasa was-was itu seperti yang diperintahkan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam .
2. Berdzikir kepada Allah dan menguatkan jiwa untuk memerangi rasa was-was tersebut.
3. Bertambah bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal untuk merealisasikan perintah Allah dan mencari keridoan-Nya. Jika Anda melaksanakan ibadah dengan penuh keyakinan, sungguh-sungguh, dan realistis niscaya Anda lupa terhadap adanya gangguan was-was. Insya Allah.
4. Banyak mengadu dan berdoa kepada Allah agar disembuhkan dari masalah ini. Saya ikut mendoakan semoga Allah memberikan jalan keluar dan keselamatan dari segala keburukan dan bencana

Berdoa Tapi tak Dikabulkan




Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimi


Mengapa manusia sudah berdoa kepada Allah tetapi tidak dikabulkan? Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,"Berdoalah kalian niscaya aku akan mengabulkan kalian?"

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan shahabat-shahabatnya. Saya memohon kepada Allah, semoga memberikan taufik-Nya kepadaku dan kepada saudara-saudaraku yang Muslim, agar mereka berpegang kepada akidah yang benar, baik secara perkataan maupun perbuatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina".(Al-Mukmin:60)

Penanya berkata bahwa dia telah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapi Allah tidak mengabulkannya sehingga dia menyangsikan kenyataan ini, padahal dalam Al-Qur'an Allah berjanji akan mengabulkan siapa yang berdoa kepada-Nya dan Allah tidak mengingkari janji-Nya.

Jawaban terhadap pertanyaan ini perlu dikatakan bahwa untuk supaya doa terkabulkan, dibutuhkan beberapa syarat, yaitu:

Syarat pertama: ikhlas hanya untuk Allah. Manusia harus ikhlas dalam berdoa sehingga dia menghadap Allah dengan hati yang hadir benar-benar bersimpuh kepada-Nya, mengetahui bahwa Dia Mahakuasa untuk mengabulkan doa itu, dan berharap agar doanya dikabulkan Allah.

Syarat kedua: manusia merasa ketika berdoa bahwa dia sangat membutuhkan bahkan sangat memerlukan Allah. Hanya Allah-lah yang dapat mengabulkan doa orang yang membutuhkan dan menghilangkan kesusahannya. Sedangkan orang yang berdoa kepada Allah, tetapi dia merasa tidak membutuhkan Allah dan tidak memerlukan-Nya, tetapi dia berdoa seperti itu hanya kebiasaan saja, maka doa seperti itu tidak akan dikabulkan.

Syarat ketiga: menjauhi makanan haram, karena makanan haram dapat menjadi penghalang antara manusia, seperti yang ditegaskan di dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali kebaikan dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang Mukmin seperti yang diperintahkan kepada para rasul."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah."(Al-Baqoroh:172)

Kemudian Allah berfirman,"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."(Al-Mukminun:51)

Kemudian, Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam juga menjelaskan tentang seorang musafir yang berdoa kepada Allah dengan mengangkat tangannya tingi-tinggi seraya berkata"ya Rabb,ya Rabb", tetapi makanan,minuman dan pakaiannya haram, maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,"doanya tidak akan dikabulkan." Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengecap bahwa doa orang seperti itu tidak akan dikabulkan, walaupun di satu sisi orang itu juga melakukan beberapa hal yang dapat mengabulkan doanya, diantaranya:

Pertama, mengangkat tangan ke atas dan menengadahkan tangannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , karena Allah berada di langit di atas singgasana ('Arsy)-Nya dan menengadahkan tangan kepada Allah termasuk salah satu sebab doa dikabulkan, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad, "Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Mahamulia, Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya, tetapi kembali dalam keadaan hampa."(Diriwayatkan Ahmad)

Kedua, orang itu berdoa kepada Allah dengan nama Tuhan, "Ya Rabb,Ya Rabb', padahal bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan nama-Nya termasuk salah satu sebab doa terkabulkan; karena nama Ar-Rabb berarti pencipta, penguasa, dan pengatur segala urusan. Di tangan-Nya urusan langit dan bumi, maka dari itu sebagian besar doa yang diriwayatkan dalam Al-Qur'an menggunakan nama tersebut, diantaranya, "Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.Ya Tuhan Kami, berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."(Al-Imran:193-195)

Maka bertawasul kepada Allah dengan nama ini termasuk faktor terkabulkan.

Ketiga, orang itu sedang dalam perjalanan dan kadang perjalanan merupakan salah satu sebab doa dikabulkan; karena manusia-ketika dalam perjalanan-merasa lebih banyak butuh kepada Allah daripada saat dia dalam keadaan muqim bersama keluarganya, seakan-akan orang itu merasa bahwa dirinya tidak bermakna tanpa Allah, sehingga hal terpenting baginya adalah bersimpuh kepada Allah dan berdoa kepada-Nya bagaimanapun keadaanya, baik diterima ataupun ditolak. Perasaan butuh semacam ini dapat menyebabkan doa dikabulkan seperti yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bahwa Allah turun ke langit dunia pada waktu sepertiga malam terakhir di mana Dia membanggakan kepada para malaikat, orang-orang yang bangun di dalamnya seraya berkata, "Mereka mendatangi-Ku karena sangat membutuhkanku, berbondong-bondong dari segala penjuru yang jauh."

Faktor-faktor penyebab diterimanya doa ini tidak bermanfaat apa-apa bagi orang itu karena makanan dan pakaiannya haram, sehingga Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,'Doanya tidak akan terkabulkan.'". Syarat-syarat penerimaan doa itu jika tidak terpenuhi maka jauh kemungkinan akan terkabulkan. Jika semua faktor terpenuhi tetapi tidak terkabulkan juga, maka hal itu tentu ada hikmahnya yang hanya diketahui oleh Allah dan tidak diketahui oleh orang yang berdoa. Bisa jadi sesuatu yang kalian cintai itu jelek bagi kalian.

Jika syarat-syarat itu terpenuhi tetapi tidak dikabulkan oleh Allah, bisa jadi hal itu karena untuk menolak keburukan yang lebih besar atau untuk disimpan hingga Hari Kiamat., sehingga kelak akan senantiasa bertambah dan bertambah. Orang yang berdoa dengan memenuhi syarat-syaratnya tetapi tidak terkabulkan dan tidak untuk menolak keburukan yang lebih besar, padahal dia telah melakukan sebab-sebab tetapi tidak dijawab karena hikmah tertentu, maka dia akan diberi dua pahala, pahala pertama atas doanya dan pahala kedua karena musibah yang dideritanya akibat doanya yang tidak terkabulkan, sehingga disimpan untuknya di sisi Allah, supaya menjadi lebih besar dan lebih sempurna.

Kemudian, hal yang terpenting juga, jangan sampai manusia terburu-buru meminta agar doanya segera dikabulkan, karena hal itu juga bisa menjadi penghalang terkabulnya doa, seperti yang dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, "Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata,'Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, 'Doa seseorang itu akan dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru menyebabkan dia berkata, 'Aku berdoa tetapi tidak dikabulkan'."(Diriwayatkan Bukhori Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, "Mereka bertanya, 'Bagaimana maksud terburu-buru itu ya Rasulullah? Beliau menajwab, 'Saya telah berdoa, berdoa, dan berdoa tetapi tidak dikabulkan'."

Tidak sepantasnya seseorang tergesa-gesa meminta agar doanya segera dikabulkan, sehingga putus asa dan meninggalkan doa. Tetapi dia harus senantiasa mengulang-ulang doa, karena setiap doa yang dilantunkan kepada Allah menjadi ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menambah ganjarannya. Maka hendaknya kalian senantiasa berdoa kepada Allah di segala urusan baik secara umum maupun khusus, dalam keadaan lapang maupun sulit, bahkan seandainnya doa bukan termasuk ibadah sekalipun, seyogyanya seseorang tetap giat dalam berdoa.

Tentang Melihat Allah



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Bagaimana pandangan salaf tentang melihat Allah? Bagaimana hukumnya orang yang berpandangan bahwa Allah itu tidak bisa dilihat dengan mata dan melihat Allah hanya merupakan ungkapan tentang keyakinan yang sempurna?

Jawaban:

Ketika menjelaskan tentang hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (Al-Qiyamah: 22-23).

Allah menyandarkan penglihatan kepada wajah, padahal anggota badan pada wajah yang dapat melihat adalah mata. Ayat tersebut menjadi dalil bahwa Allah dapat dilihat langsung dengan mata, tetapi penglihatan kita kepada Allah tidak mampu mencakup keseluruhan tentang-Nya, seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran, "Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (Thaahaa:110).

Jika kita tidak mampu mengetahui Allah secara keilmuwan –sedangkan penguasaan ilmiah lebih luas dan lebih mencakup daripada pengetahuan mata- menunjukkan bahwa kita juga tidak mungkin melihat Allah secara utuh dengan mata kita. Hal ini selaras dengan firman Allah, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui." (Al-An'aam: 103).

Mata walaupun bisa melihatnya, tetapi tidak mungkin bisa mengetahuinya secara detail. Allah memang dapat dilihat secara langsung dengan mata, tetapi dengan penglihatan itu Dia tidak bisa diketahui secara detail; karena Dia terlalu agung untuk diketahui. Demikianlah pendapat para salaf dan mereka melihat bahwa nikmat paling sempurna yang diberikan Allah kepada manusia adalah melihat wajah Allah. Maka dari itu, di antara do'a Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam adalah, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, lezatnya melihat wajah-Mu." (Diriwayatkan An-Nasa'i).

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "lezatnya melihat" karena penglihatan itu memberikan kelezatan yang tidak diketahui kecuali orang yang mengalaminya yang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah. Saya memohon kepada Allah, semoga Dia menjadikanku dan Anda termasuk bagian dari mereka. Itulah hakekat yang disepakati para salaf.

Sedangkan orang yang mengira bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata dan bahwa melihat merupakan ungkapan dari kesempurnaan keyakinan, ini adalah pendapat batil, bertentangan dengan dalil-dalil dan tidak sesuai dengan realitas, karena kesempurnaan keyakinan juga ada di dunia, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dalam menafsirkan kata ihsan, "Ihsan adalah hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, seakan-akan Dia melihatmu."

Jika Anda beribadah kepada Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, ini adalah keyakinan yang sempurna. Sedangkan anggapan yang mengatakan bahwa nash-nash yang diriwayatkan tentang melihat Allah menggambarkan tentang keyakinan yang sempurna, karena orang yang yakin dengan keyakinan yang sempurna seperti orang yang melihat dengan mata kepala, adalah anggapan yang salah dan mengubah nash, bukan takwil tetapi mengubah nash dengan perubahan yang batil yang harus ditolak.

Menjadikan Shalawat untuk Mencari Rizqi



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Bagaimana Hukumnya Menjadikan Bacaan Shalawat Nabi Shallallahu Alahi Wa Sallam Sebagai Sarana Untuk Mencari Rizqi?

Jawaban?

Hukumnya haram dan harus diketahui bahwa orang yang memuji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dibagi menjadi dua:

Pertama, memuji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dengan pujian yang berhak beliau terima tanpa berlebih-lebihan, maka ini boleh hukumnya, atau tidak apa-apa hukumnya memuji Rasulullah dengan sifat-sifat yang terpuji dan sempurna dalam penciptaan dan petunjuknya, yang memang beliau berhak menerimanya.

Kedua, orang yang memuji Rasulullah dengan pujian yang berlebih-lebihan, yang dilarang Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam seraya bersabda, "Janganlah kalian mengagung-agungkanku seperti orang-orang Nasrani yang mengagungkan-agungkan Al-Masih bin Maryam. Sesungguhnya saya adalah hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR Bukhari).

Maka barangsiapa yang memuji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam secara berlebih-lebihan hingga mengatakan bahwa beliau adalah penolong orang-orang yang meminta pertolongan, pengabul do'a orang-orang yang berada dalam kesempitan, raja dunia dan akhirat, beliau mengetahui alam ghaib dan sebagainya, maka ini haram hukumnya, bahkan telah sampai kepada derajat syirik besar yang dapat mengeluarkan dari agama. Maka tidak diperkenankan untuk memuji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan pujian yang berlebih-lebihan sehingga dilarang Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Menjadikan pujian kepada Rasulullah dengan pujian yang diperbolehkan, sebagai pekerjaan untuk mencari rizqi, menurut kami hukumnya juga haram dan tidak boleh, karena memuji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan pujian yang berhak beliau terima, seperti akhlak yang mulia, sifat-sifat yang terpuji, dan petunjuk yang lurus termasuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan ibadah tidak boleh dijadikan wasilah untuk mendapatkan dunia, seperti yang difirmankan oleh Allah, "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Huud: 15-16).

Apakah Jin Mempunyai Pengaruh Kepada Manusia dan Bagaimana Cara Menjaga Diri Dari Pengaruh Jin Itu?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:

Tidak diragukan lagi bahwa jin mempunyai pengaruh terhadap manusia dengan siksaan yang kadang bisa membunuh, misalnya jin menganiaya manusia dengan melemparnya dengan batu atau menakut-nakuti manusia dan sebagainya seperti yang dijelaskan oleh sunnah dan diperkuat oleh realitas. Dijelaskan dalam hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengizinkan kepada salah seorang sahabatnya pulang ke rumah isterinya dalam satu peperangan—saya kira perang Khandaq—sahabat itu masih muda dan baru saja melangsungkan pernikahan. Ketika sampai di rumah tiba-tiba isterinya berada di depan pintu, lalu dia menolaknya. Isterinya berkata kepadanya, "Masuklah, lalu dia masuk ternyata dia adalah ular yang menjulur di atas kasur. Pada saat itu dia membawa tombak, lalu menusuknya dengan tombak itu hingga mati. Seketika itu –atau ketika ular mati- Maka mati pula lelaki itu dan tidak diketahui mana yang lebih dahulu mati, ular atau lelaki itu. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam beliau melarang untuk membunuh jin yang ada di rumah kecuali ular-ular berbisa dan ular-ular yang jahat."

Ini merupakan dalil bahwa jin kadang memusuhi manusia dan mereka kadang juga mencelakai manusia seperti yang biasa terjadi dalam kenyataan. Berita-berita ini mutawatir sifatnya dan banyak jumlahnya bahwa manusia ketika berada di tempat yang angker, kadang dilempar dengan batu sedangkan dia tidak melihat ada manusia di tempat itu, kadang terdengar suara-suara lembut, seperti pohon yang tertiup angin dan sebagainya yang menakutkan dan menganiaya. Begitu juga kadang jin masuk ke dalam tubuh manusia, baik karena cinta atau karena untuk menyakiti atau karena sebab-sebab lain seperti yang difirmankan Allah, "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al-Baqarah: 275). Dalam keadaan seperti ini kadang jin berbicara dari dalam jiwa manusia, menirukan orang yang membaca ayat-ayat Al-Qur'an kepadanya, dan kadang-kadang menantang orang yang membacakan Al-Qur'an kepadanya itu agar dia tidak kembali kepadanya dan sebagainya seperti yang diberitakan dalam hadits-hadits dan berita-berita yang menyebar di kalangan manusia. Dengan demikian, maka cara untuk menjaga dari kejahatan jin itu adalah membaca doa-doa yang dijelaskan di dalam sunah, sehingga dapat menjaga mereka darinya, seperti membaca ayat kursi, karena ayat kursi jika dibaca di malam hari, akan tetap di jaga oleh Allah dan tidak akan didekati oleh syetan hingga pagi.

Penjelasan tentang Takdir



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Ya Syaikh, tolong jelaskan kepada kami tentang masalah takdir? Apakah asal semua tindakan manusia sudah ditakdirkan? Lalu bagaimana manusia memilih pekerjaannya? Misalnya, jika Allah menakdirkan seseorang akan membangun masjid, pasti dia akan membangunnya, tetapi dia tidak melakukannya karena dia tahu bahwa dia diberi pilihan membangun atau tidak terserah kepadanya. Begitu juga kemaksiatan, jika Allah menakdirkan, pasti dia akan melakukan kemaksiatan itu, tetapi dia tidak melakukannya, karena dia tahu bahwa dia diberi pilihan untuk melaksanakan atau tidak terserah kepadanya. Kesimpulannya bahwa manusia diberi pilihan apakah dia akan melaksanakan apa yang ditakdirkan kepadanya ataukah tidak, terserah kepadanya. Apakah pendapat ini benar?


Jawaban:

Masalah takdir merupakan masalah yang selalu diperdebatkan manusia sepanjang zaman, maka dari itu manusia dibagi menjadi tiga bagian: dua bagian di ujung dan satu bagian di tengah. Dua bagian yang ada di ujung itu adalah:

Pertama, orang yang melihat keumuman takdir Allah sehingga dia menafikan adanya tindakan memilih. Dia berpendapat bahwa manusia serba terpaksa dalam pekerjaannya dan tidak mempunyai pilihan apa-apa. Jika ada seseorang jatuh dari atap karena diterpa angina dan sebagainya atau dia turun dengan selamat, semuanya sudah ditetapkan dalam takdir.

Kedua, orang yang berpendapat bahwa manusia melakukan segala sesuatu atau meninggalkannya berdasarkan pilihannya sendiri dan tidak ada hubungannya denga takdir Allah. Dia berpendapat bahwa manusia bebas mengerjakan amalnya dan tidak ada kaitannya dengan takdir Allah di dalamnya.

Ketiga, orang yang bersikap tengah-tengah, lalu melihat kedua sebab itu. Dia melihat keumumam takdir Allah dan juga melihat adanya pilihan manusia. Dia mengetahui secara tegas perbedaan antara jatuhnya manusia dari langit-langit karena angin atau lainnya dan turunya dia darinya karena pilihannya sendiri ataukah karena takdir.

Kelompok ketiga ini tahu bahwa dia jatuh bukan atas pilihannya, tetapi ketika dia turun dari tangga adalah atas pilihannya; tetapi keduanya terjadi karena ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah. Tidak ada sesuatu yang terjadi di bumi Allah ini tanpa diinginkan-Nya, tetapi apa yang terjadi karena pilihan manusia terjadi pada aspek yang bersifat taklif (pembebanan). Maka tidak ada hujjah (alasan) baginya dengan takdir dalam masalah taklif yang diperintahkan dan dilarang. Demikian itu karena ketika dia melakukan pelanggaran, dia tidak tahu apa yang ditakdirkan Allah kepadanya, sehingga ketika dia memilih melakukan pelanggaran itu, dia berhak mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat. Maka dari itu, tatakala dia dipaksa seseorang untuk melanggar, dia tidak dihukum karena pelanggaran itu, karena dia melakukannya secara terpaksa.

Jika manusia tahu bahwa larinya dia dari api menuju tempat yang aman adalah pilihannya, jika menetapnya dia di rumah yang indah dan luas juga berdasarkan pilihannya, tetapi di samping itu dia juga beriman bahwa larinya dia dari api dan menetapnya dia di rumah yang indah itu terjadi karena ketetapan dan takdir Allah; jika dia tetap tinggal di tempat itu akan dilahap api dan jika dia terlambat meninggalkan tempat itu akan celaka dan kehilangan kesempatan sehingga dia akan dicela; mengapa dia tidak tahu masalah ini sehingga meremehkannya dengan meninggalkan factor-faktor yang dapat menyelamatkannya dari neraka dan mengantarkannya ke dalam surga?

Sedangkan permisalan yang digambarkan bahwa jika Allah menakdirkan hamba-Nya mampu membangun masjid maka dia pasti akan membangunnya, tetapi dia tidak melakukannya karena dia tahu bahwa dia diberi pilihan membangun atau tidak terserah kepadanya, ini adalah permisalan yang tidak benar, karena dia menyatakan bahwa membangun tidaknya, hanya ditetapkan berdasarkan akal, tidak masuk di dalamnya takdir Allah, padahal asal pemikiran untuk membangun itu sendiri, hanya ditetapkan berdasarkan takdir dan tidak ada pilihan di dalamnya.

Tetapi asal pemikiran untuk membangun masjid itu juga masuk di dalamnya pilihan manusia, karena dia tidak dipaksa dalam melakukannya, seperti halnya dia tidak dipaksa untuk berfikir membangun kembali rumahnya atau membiarkannya. Tetapi pemikiran itu sendiri, sebenaranya telah ditakdirkan Allah Swt kepadanya melalui cara yang tidak dia sadari, karena itu, dia tidak tahu bahwa Allah telah menetapkan takdir kepadanya sehingga terjadi sesuatu. Takdir addalah rahasia tersembunyi yang tidak seorang pun mengetahuinya, kecuali jika Allah menunjukkannya melalui wahyu atau terjadi secara inderawi. Begitu juga tentang masalah pembangunan masjid tadi, semua itu ditakdirkan oleh Allah, karena Allah telah menakdirkan segala sesuatu baik secara global maupun rinci. Tidak mungkin manusia memilih sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak ditakdirkan-Nya, tetapi jika seseorang memilih sesuatu dan mengerjakannya, sememntara dia tahu dengan yakin bahwa Allah Swt telah menetapkan dan menakdirkannya, maka orang itu diberi pilihan berdasarkan factor-faktor inderawi yang tampak yang telah ditakdirkan Allah sebagai sebab terhjadinya perbuatan itu, sehingga ketika manusia melakukan perbuatan itu dia tidak merasa ada orang lain yang memaksanya berbuat. Jika dia mengerjakan hal itu sesuai dengan factor-faktor yang dijadikan Allah sebagai sebab, berarti baik secara langsung maupun tidak langsung, Allah telah menakdirkannya.

Begitu juga mengenai permisalan yang Anda katakan, tentang orang yang melakukan kemaksiatan, bahwa Allah telah menakdirkannya akan berbuat maksiat dan dia pasti akan melakukannya, tetapi akhirnya dia meninggalkan kemaksiatan itu karena dia tahu bahwa dirinya diberi kebebasan untuk memilih.

Pendapat kami dalam masalah ini sama seperti pendapat kami tentang masalah pembangunan masjid: sesungguhnya takdir Allah yang ditetapkan kepada seseorang untuk berbuat maksiat tidak menafikan pilihannya, karena ketika dia memilih untuk berbuat maksiat itu, dia tidak tahu apa yang ditetapkan Allah kepadanya, sehingga tindakan itu dia lakukan berdasarkan pilihannya dan dia tidak merasa ada orang lain yang memaksanya. Tetapi, ketika orang itu telah melakukan perbuatannya, kita baru tahu bahwa Allah telah menakdirkannya. Begitu juga tentang perbuatan maksiat yang dilakukan seseorang, terjadi karena pilihannya sendiri yang tidak bertentangan dengan takdir Allah, karena Dia telah menakdirkan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung, dan menetapkan segala factor yang menghantarkan seseorang kepada takdirnya. Semua itu tidak menyimpang dari ketetapan Allah dan tidak pula menyimpang dari perbuatan manusia yang bersifat memilih dan terpaksa, seperti yang difirmankan Allah, "Apakah kamu tidak menetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi?;bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab )Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." (Al-Hajj: 70)

Kemudian firman Allah, "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tingalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (Al-An'aam:112)

Kemudian firman Allah, "Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka untuk memebinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi merka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah merka dan apa yang mereka ada-adakan. " (Al-An'aam:137)

Serta firman Allah, "Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang dating) sesudah rasul-rasul itu, sesudah dating kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di anatara mereka yang kafir. Seandainya Allah mengehendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (Al-Baqarah: 253)

Seyogyanya seseorang tidak mencari-cari masalah seperti ini untuk dirinya sendiri maupun orang lain yang dapat menimbulkan gangguan akidah dan menentangka syariat denga takdir. Tindakan semacam ini bukan manhaj para sahabat Nabi, padahal mereka adalah orang-orang yang paling kuat tekadnya dalam memahami realitas dan paling dekat dengan Rasulullah, penepis keraguan dan penghilang kegundahan. Dalam sebuah hadits disebutkan, 'Dari Ali Radhiyallahu ANhu berkata, 'Kami duduk bersama Nabi Saw dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda, 'Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun di surga. 'Salah seorang dari kaum itu bertanya, 'Apakah kita tidak bertawakkal ya Rasulullah.'Beliau menjawab, 'Tidak, ketahuilah behwa semuanya akan dimudahkan.'Kemudian beliau membaca firman Allah, 'Maka barangsiapa yang memberi dan bertakwa…..(ayat) ." (Al-Bukhori dan Muslim) Ditakhrij Al-Bukhori dalam kitab Al-Qadar, wa Kaana Amrullahi Qadaran Maqdura. Muslim, kitab Al-Qadar bab "Kaifiyatu Khalqi Al-Adam fi Bathini Ummihi", [2647)

Dalam satu riwayat disebutkan, "Ketahuilah bahwa semuanya dimudahkan untuk mencapai apa yang dia diciptakan untuknya. Adapun orang yang termasuk ahli bahagia, akan dimudahkan baginya mengerjakan pekerjaan ahli bahagia, sedangkan orang yang ditakdirkan menjadi ahli sengsara, akan dimudahkan baginya mengerjakan amalan orang-orang sengsara." Ditakhrij Al-Bukhori dalam kitab Al-Janaiz, bab "Mau'idzah Al-Muhaddits 'Inda Al-Qubr", [1362] dan Muslim kitab Al-Qadar, bab "Kaifiyatu Khalqi Al-Adami fi Bathni Ummihi", [2647)

Kemudian beliau membaca firman Allah, "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapaun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (Al-Lail: 5-10)

Nabi saw melarang hanya bersandar kepada takdir tanpa berbuat apa-apa, karena jika hanya diam tanpa berbuat, tidak ada jalan untuk mengetahui takdir itu, maka beliau memerintahkan agar seseorang mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuannya, yaitu bekerja dan berdalil kepada ayat yang menunjukkan bahwa orang yang beramal shalih dan beriman maka dia akan dimudahkan Allah melakukannya. Itulah obat mujarab yang membawa hasil, yang di dalamnya seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dan kebahagiaan, yaitu giat beramal shalih yang didasarkan atas keimanan dan merasa gembira dengannya ketika mengikutinya dengan kemudahan di dunia dan akhirat. Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk beramal shalih, semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita, menjauhkan kita dari kesulitan dan mengampuni kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mengabulkan.

Apakah Doa Dapat Mengubah Takdir yang Ditetapkan kepada Manusia sebelum Penciptaannya?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:


Tidak diragukan lagi bahwa doa dapat mengubah takdir, tetapi takdir juga telah menetapkan bahwa perubahan itu akan terjadi karena doa, maka jangan mengira bahwa jika Anda berdoa kepada Allah berarti Anda berdoa dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan, tetapi doa Anda itu sendiri telah ditakdirkan dan apa yang akan terjadi juga telah ditakdirkan. Maka dari itu kita dapati ada seseorang yang membacakan doa kepada orang sakit hingga sembuh. Seperti yang terjadi pada kisah tentang sekelompok pasukan yang diutus Nabi saw , lalu mereka ingin singgah menjadi tamu di suatu kaum, tetapi mereka menolak untuk mereka singgahi.

Lalu ditakdirkan behawa pimpinan kaum itu digigit ular hingga mereka meminta kepada pasukan itu untuk membecakan doa atasnya. Para sahabat (pasukan) itu, menyaratkan upah atas doa yang akan mereka bacakan. Penduduk kaum pun berjanji akan memeberi mereka seekor kambing. Lalu salah seorang dari sahabat membacakan surat Al-Fatihah kepadanya. Maka berdirilah orang yang tergigit ular itu seakan-akan dia lepas dari belenggu, atau seakan-akan dia seekor keledai yang lepas dari ikatan. Dengan demikian doa dapat berpengaruh terhadap kesembuhan orang sakit.

Doa memang mempunyai pengaruh tetapi tidak mengubah takdir, melainkan telah ditetapkan bahwa takdir itu akan berubah dengan doa, karena segala sesuatu di sisi Allah telah ditetapkan. Begitu juga semua factor yang memberikan pengaruh terhadap perubahan-perubahannya atas izin Allah. Semua factor sudah ditentukan dan akibatnya pun telah ditentukan.

Apakah Rizki dan Isteri telah Ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Jawaban:

Segala sesuatu sejak Allah menciptakan pena hingga Hari Kiamat, semuanya tertulis dalam Lauhul Mahfudz, karena makhluk yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya, "Tulislah." Pena menjawab, "Tuhanku, apa yang harus aku tulis?" Allah menjawab, "Tulislah apa yang akan terjadi. Maka pada saat itulah, pena menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Kiamat." Ditakhrij oleh Ahmad,V,317.

Dijelaskan dalam hadits shahih dari Nabi saw bahwa janin yang ada di dalam perut ibunya jika telah berusia empat bulan Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, menentukan rizkinya, ajalnya, amalnya, bahagia atau sengsara. Rizki juga ditetapkan berdasarkan sebab-sebab, tidak bertambah dan tidak berkurang. Di antara sebab-sebab (faktor-faktor) untuk mendapatkan rizki adalah dengan bekerja seperti yang difirmankan Allah, "Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkankan."(Al-Mulk:15)

Di antara sebab rizki lainnya adalah menyambung silaturahmi dengan kedua orang tua dan sanak kerabat, karena Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang senang dilapangkan rizkinya dan dianjangkan usianya hendaklah dia menyambung hubungan persaudaraannya." Diatakhrij oleh Al-Bukhori, kitab Al-Buyu', bab "Man Ahabba Al-Busth fi Ar-Rizki", [2067]

Di antara sebab mendapatkan rizki lainnya adalah bertakwa kepada Allah seperti yang difirmankan-Nya, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."(Ath-Thalaq:2-3)

Jangan Anda katakan bahwa rezki telah ditetapkan dan dibatasi sehingga saya tidak perlu melakukan usaha untuk mendapatkannya, karena itu termasuk kelemahan. Anda harus tetap tegar dan bersemangat untuk mendapatkan rezki Anda, karena usaha akan memberikan manfaat bagi Anda, baik dalam agama maupun dunia Anda. Nabi saw bersabda, 'Orang kuat adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan melakukan sesuatu untuk sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan dengan angan-angan yang bermacam-macam terhadap Allah." Ditakhrij At-Tirmidzi kitab Shifath Al-Qiyamah, bab XXV,[2459] dan Ibnu Majah, kitab Az-Zuhd, bab "Dzikr Al-Maut wa Al-Isti'dad lahu",[4260]

Kalau rezki telah ditetapkan dan ditentukan factor-faktornya, begitu juga suami atau isteri juga telah ditetapkan. Setiap suami isteri telah ditetapkan satu sama lain dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di mata Allah, baik di langit maupun di bumi.

Apakah Sihir itu dan Bagaimana Hukum Mempelajarinya?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:
Menurut para ulama, sihir secara bahasa adalah ungkapan tentang segala sesuatu yang lembut dan tersembunyi sebabnya, serta memiliki pengaruh tersembunyi pula, yang tidak diketahui manusia. Dalam pengertian ini, sihir mencakup peramalan dan perdukunan, bahkan mencakup terhadap bayan dan fashahah, seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, "Sesungguhnya sebagian dari bayan(penjelasan) itu adalah sihir." Ditakhrij oleh Al-Bukhari, kitab An-Nikah, bab "Al-Khutbah." (5146). Segala sesuatu yang memiliki pengaruh tersembunyi disebut sihir.

Sedangkan menurut istilah, sihir diartikan sebagian orang dengan hasrat, mantera, perjanjian yang berpengaruh terhadap hati, akal, dan badan, sehingga mengendalikan akal, menumbuhkan cinta dan benci, lalu memisahkan antara seseorang dengan isterinya, menyakitkan badan dan melupakan akal pikiran."

Mempelajari sihir hukumnya haram bahkan kafir jika wasilahnya bekerja sama dengan syetan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (Al-Baqarah: 102).

Sihir semacam ini, yaitu yang dilakukan dengan cara kerjasama dengan syetan adalah kafir, mempekerjakannya juga kafir, zhalim dan memusuhi makhluk. Maka dari itu seorang penyihir harus dibunuh, baik karena dianggap murtad maupun terjerat hukuman dera. Jika sihirnya sampai kepada batas kekafiran, maka dia harus dibunuh karena murtad dan kafir, tetapi jika sihirnya tidak mencapai derajat kafir maka dia dibunuh karena terjerat hukuman dera untuk mencegah kejahatan yang akan menimpa kaum muslimin.

Kaidah-Kaidah Memahami Sunnah



Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir

Seorang muslim diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti Rasulullah saw. dan meneladani beliau. Allah SWT berfirman (yang artinya), ".... Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ...." (Al-Hasyr: 7). Juga, firman-Nya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzaab: 21).

Setiap hadits yang diutarakan oleh Rasulullah saw. itu ada maksudnya. Orang yang serampangan mengamalkan hadits tanpa memahami maksudnya akan terjebak pada kesalahan dalam pengamalan ibadahnya. Contoh berikut . Yaitu, kasus yang dialami oleh 'Adi bin Hatim r.a. ketika turun firman Allah SWT, "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar ...." (Al-Baqarah: 187). Dia ('Adi bin Hatim r.a.) mengambil dua helai benang: yang satu berwarna putih, dan yang satu lagi berwarna hitam. Kemudian, diletakkannya di bawah bantalnya. Setelah itu, dia mulai melihat (mengamati) kedua benang itu dan tidak tampak sesuatu.

Ketika dia memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. bersabda, "Yang dimaksud dengan dua benang tersebut adalah gelapnya malam dan cerahnya waktu siang." (HR Bukhari dan Muslim). Dari sini terlihat dengan jelas, betapa seseorang yang belum mendapatkan pemahaman dengan benar itu pasti melangkah dengan tidak benar pula. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara memahami sunnah dengan benar.


1. Memahami Sunnah dengan Tuntunan Al-Qur'an
As-Sunnah adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an dalam syariat Islam. As-Sunnah menerangkan dan merinci apa yang ada dalam Al-Qur'an. Tidak ada pertentangan antara As-Sunnah dengan Al-Qur'an. Jika terdapat pertentangan, hal itu mungkin terjadi karena haditsnya tidak shahih atau kita sendiri yang tidak bisa memahaminya. Karena, Allah SWT telah menegaskan, "Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisaa': 82).

Contoh yang paling jelas bahwa sunnah yang shahih tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, justru yang bertentangan dengan Al-Qur'an adalah hadits-hadits dha'if (lemah) dan maudhu (palsu), yaitu kisah gharaniq (sembahan atau tuhan-tuhan) kaum musyrikin). Diriwayatkan bahwa setelah membaca firman Allah SWT, "Maka apakah patut (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-'Uzza dan Manat yang ketiga." (An-Najm: 19-20). Maka, Rasulullah saw. bersabda, "Mereka itu adalah gharaniq yang tinggi dan sungguh syafaatnya (pertolongannya) sangat diharapkan." Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka sifatkan dengan ketinggian-Nya yang agung.

Kisah yang bathil ini mustahil akan benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri (yang disebutkan). Apakah patut Rasulullah saw. memuji tuhan-tuhan orang-orang musyrik? Maka dari itu, hadits ini jelas bathil, sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah rhm. melalui ucapannya, "Ini (termasuk hadits) yang dipalsukan oleh orang-orang zindiq." (Nashbul Majaaniiq, hlm. 25).


2. Mengumpulkan Hadits-Hadits yang Satu Tema dan Pembahasan pada Satu Tempat
Merupakan suatu keharusan untuk memahami sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu mengumpulkan hadits-hadits shahih yang satu pembahasan supaya hadits yang mutasyabih (yang memiliki banyak penafsiran) bisa dikembalikan ke yang muhkam (maknanya jelas), yang muthlaq (tidakterikat) di bawa ke yang muqayyad (terikat), dan yang 'amm (maknanya umum) ditafsirkan oleh yang khashsh (maknanya khusus). Dengan cara ini, akan jelas maksud hadits tersebut, maka jangan mempertentangkan antara hadits yang satu dengan yang lainnya.

Imam Ahmad berkata, "Suatu hadits, kalau tidak engkau kumpulkan jalan-jalannya (sanad-sanadnya), engkau tidak akan paham karena sebagian hadits menafsirkan sebagian yang lainnya." (Al-Jaami' (I/270).

Apabila sanad-sanad suatu hadits yang satu pembahasan tidak dikumpulkan pada suatu tempat, maka itu bisa menyebabkan terjadinya kesalahan dalam memahami hadits tersebut. Padahal, orang itu berdalil dengan hadits shahih, akan tetapi dia tidak mengumpulkan hadits yang semisal dengannya sehingga menyebabkan pemahamannya terhadap hadits tersebut tidak sempurna. Bahkan, pemahaman dan gambarannya menyimpang tentang masalah yang dia bahas itu. Contoh untuk kasus ini adalah sebagai berikut.

Hadits Abu Umamah ketika melihat alat pertanian, beliau berkata, "Aku mendengar Nabi saw. bersabda, 'Tidaklah (alat) ini masuk ke rumah suatu kaum, kecuali Allah akan memasukkan padanya kehinaan'." (HR Bukhari). Zhahir (lahiriah) hadits ini memberikan faedah tentang bencinya Rasulullah saw. terhadap pertanian. Namun, kalau seseorang mengumpulkan hadits-hadits yang lain tentang pertanian, maka dia akan mendapatkan bahwa Rasulullah saw. justru menganjurkan untuk bertani dan menerangkan tentang bolehnya bertani, sebagaimana sabda beliau sebagai berikut.

"Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu burung memakan dari tanaman itu, atau binatang ternak, melainkan yang demikian itu sebagai sedekah (bagi yang menanam)." (HR Bukhari dan Muslim).

"Jika kiamat telah mendatangi salah seorang di antara kalian dan di tangannya (masih) ada bibit kurma, maka hendaklah dia menanamnya." (HR Ahmad).

Dari tiga hadits yang telah disebutkan ini ada satu hadits yang seolah-olah bertentangan, yaitu hadits yang disebutkan pertama. Lalu, bagaimanakah cara para ulama menyatukan antara hadits-hadits yang tampaknya bertentangan ini? Bagaimana pula pemahaman yang benar setelah menyatukan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini (bertani)?

Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya, Fathul Baari (V/5), menjelaskan bahwa cara menyatukan hadits-hadits ini adalah dengan salah satu dari dua cara sebagai berikut: (1) dibawa ke makna akibat buruk dari pertanian karena melalaikan kewajiban, atau (2) bertani dengan tidak melalaikan kewajiban tetapi melampaui batas dalam melakukannya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhari di dalam memahami hadits-hadits tersebut dengan menulis judul bab sebagai berikut: "Hal-Hal yang Diperingatkan dari Akibat-Akibat Jelek karena Sibuk dengan Alat Pertanian atau Melampaui Batas dari yang Diperintahkan".

Ada hadits yang mendukung pemahaman bahwa maksud larangan tersebut ditujukan apabila seseorang disibukkan dengan bertani dari kewajiban-kewajiban, seperti jihad di jalan Allah, apalagi bagi yang dekat tempatnya dengan musuh-musuh Allah. Hadits tersebut adalah hadits marfu' dari Ibnu 'Umar r.a., "Jika kalian berjual-beli dengan (cara) 'inah (salah satu bentuk riba), kalian dilalaikan oleh ternak kalian, dan kalian suka (disibukkan) dengan bertani sehingga kalian meninggalkan (kewajiban) jihad, niscaya Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan yang Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian." (Hadits Shahih Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).


3. Menyatukan Hadits-Hadits yang Tampak Bertentangan
Pada dasarnya tidak ada pertentangan antara nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih. Seandainya terjadi suatu pertentangan, maka itu anggapan kita semata, bukan hakikat dari nash-nash tersebut. Inilah keyakinan seorang mukmin pada hadits-hadits yang dapat dipercaya (hadits-hadits yang shahih atau hasan). Firman Allah berikut harus selalu menjadi pedoman. "Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisaa': 82).

Contoh hadits-hadits yang tampaknya bertentangan adalah hadits-hadits yang melarang seseorang menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kecil, sementara ada hadits-hadits lain yang membolehkan hal tersebut. Cara jama' yang dipakai para ulama untuk menyatukan hadits-hadits yang tampak bertentangan tersebut adalah dengan menyatakan bahwa hadits-hadits larangan dimaksudkan bila dilakukan di tempat terbuka, sedangkan hadits-hadits yang membolehkan dimaksudkan bila dilakukan di dalam suatu tempat yang ada pembatasnya (seperti seseorang melakukannya di WC). (Ta-wiil Mukhtalafil Hadiits [hlm. 90] dan Nailul Authaar [I/98]).

Adapun kitab yang paling bermanfaat (dan bagus) yang bisa dijadikan rujukan untuk mendapatkan mukhtalaful hadits (hadits yang tampaknya bertentangan dengan hadits yang lain tetapi memungkinkan untuk dijamak/disatukan) adalah Musykilul Aatsaar karya Ath-Thahawi dan Ta'wiil Mukhtalaf al-Hadiits karya Ibnu Qutaibah.


4. Mengetahui Nasikh dan Mansukh Suatu Hadits
(Nasikh=Hadits yang Menghapus Hadits yang Lain; Mansukh=Hadits yang Dihapus)
Nasakh (hukum yang lama diganti hukum yang baru) dalam hadits memang terjadi. Seorang muslim yang mengamalkan suatu hadits tanpa mengetahui kalau hadits itu mansukh, berarti dia telah terjatuh ke dalam ilmu yang tidak diperintahkan syara' untuk mengamalkannya. Sebab, kita tidak diperintahkan untuk mengamalkan hadits-hadits yang mansukh. Sementara nasakh adalah suatu 'illat (penyebab) dilarangnya beramal dengan satu hadits (yang mansukh, ed.).

Al-Hafizh as-Suyuthi rhm. berkata (yang artinya), "Nasakh telah dimasukkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kategori al-'ilal (cacat hadits). Namun, beliau hanya mengkhususkannya dalam masalah pengalamannya saja (bukan status haditsnya)." (Al-Alfiyah, hlm. 22).

Seseorang tidak boleh tergesa-gesa dalam masalah ini sehingga mengatakan hadits ini mansukh, kecuali setelah mengetahui dalil-dalil dan qara-in (tanda-tanda) yang menunjukkan adanya nasakh.

Adapun kitab-kitab yang bisa membantu untuk mengetahui yang mansukh dari hadits-hadits adalah sebagai berikut.
* Ittihaaf Dzawiir Rusuukh karya Al-Ju'buri.
* An-Naasikh wal-Mansuukh karya Ibnul Jauzi.
* Al-I'tibaar fin Naasikh wal-Mansuukh minal Akbaar karya Al-Hazimi.


5. Mengetahui Asbabul Wuruud Hadits
(Asbabul Wuruud=Sebab-Sebab Disabdakannya Suatu Hadits)
Mengetahui sebab-sebab disabdakannya suatu hadits sangat membantu dalam memahami maksud hadits Rasulullah. Termasuk cara yang baik dalam memahami sunnah Nabi adalah meneliti (melihat) sebab-sebab tertentu disabdakannya suatu hadits, atau kaitannya dengan 'illat (alasan atau sebab) tertentu yang ditegaskan langsung dari nash (teks) hadits itu, atau dari istinbath/kesimpulan (maknanya), atau yang dipahami (langsung) dari kondisi ketika hadits tersebut diucapkan (oleh Rasulullah saw.).

Untuk memahami suatu hadits dengan pemahaman yang benar dan mendalam, tidak boleh tidak, kita harus mengetahui situasi dan kondisi yang menyebabkan hadits itu diucapkan oleh Nabi. Biasanya, hadits datang sebagai penjelas terhadap kejadian-kejadian tertentu dan sebagai terapi terhadap situasi dan kondisi kejadian tersebut. Dengan begitu, maksud dari hadits itu dapat ditentukan dengan jelas dan rinci. Tujuannya tidak lain agar hadits itu tidak menjadi sasaran bagi dangkalnya perkiraan, atau kita mengikuti zhahir (lahiriah dari hadits tersebut) yang tidak dimaksudkan (oleh maknanya). (Kaifa Nata'aamal ma'as-Sunnah [hlm. 125]).

Contoh kasusnya adalah sebagai berikut. Ada sebuah hadits yang berbunyi (artinya), "Kalian lebih tahu urusan dunia kalian." (HR Muslim, Kitab Al-Manaaqib, no. 2363).

Sebagian orang menjadikan hadits ini sebagai alasan untuk lari dari hukum-hukum syara' (agama) yang berkaitan dengan masalah ekonomi, perdata, politik, dan yang semisalnya dengan alasan--seperti anggapan mereka yang salah--bahwa itu adalah urusan duniawi.

Apakah betul ini yang dimaksud oleh hadits tersebut? Sama sekali tidak! Karena, di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah terdapat hal-hal yang mengatur urusan muamalah: jual-beli, serikat dagang, pegadaian, sewa-menyewa, utang-piutang, dan sebagainya. Bahkan, ayat terpanjang di dalam Al-Qur'an turun untuk membahas aturan penulisan utang-piutang. "Hai, orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dengan benar ...." (Al-Baqarah: 282).

Dengan demikian, hadits tersebut di atas ditafsirkan oleh sebab diucapkannya hadits tersebut, yaitu kisah penyerbukan pohon kurma atas anjuran Rasulullah berdasarkan pendapat beliau yang merupakan dugaan belaka dalam masalah penyerbukan pohon kurma. Setelah itu para sahabat menjalankan saran Nabi tersebut dengan penuh ketaatan, padahal ketika itu mereka tidak melakukan penyerbukan, kemudian Rasulullah saw. bersabda dengan hadits tersebut.

Contoh yang lain adalah hadits yang artinya, "Barang siapa melakukan sunnah yang baik dalam agama Islam ...." (HR Muslim, Kitab Az-Zakaah, Bab "Al-Hatstsu 'alash Shadaqah" [IV/2801, 2802]).

Sebagian orang memahami hadits ini dengan pemahaman yang salah. Sehingga, mereka membuat bid'ah-bid'ah (amal yang diada-adakan dan tidak ada dasarnya) dalam agama dengan beranggapan bahwa mereka sedang mendekatkan diri kepada Allah dan beramal dengan sunnah yang baik, yang masuk dalam kandungan makna hadits Rasulullah saw. di atas.