Kamis, 31 Desember 2009

Tentang Melihat Allah



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Bagaimana pandangan salaf tentang melihat Allah? Bagaimana hukumnya orang yang berpandangan bahwa Allah itu tidak bisa dilihat dengan mata dan melihat Allah hanya merupakan ungkapan tentang keyakinan yang sempurna?

Jawaban:

Ketika menjelaskan tentang hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (Al-Qiyamah: 22-23).

Allah menyandarkan penglihatan kepada wajah, padahal anggota badan pada wajah yang dapat melihat adalah mata. Ayat tersebut menjadi dalil bahwa Allah dapat dilihat langsung dengan mata, tetapi penglihatan kita kepada Allah tidak mampu mencakup keseluruhan tentang-Nya, seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran, "Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (Thaahaa:110).

Jika kita tidak mampu mengetahui Allah secara keilmuwan –sedangkan penguasaan ilmiah lebih luas dan lebih mencakup daripada pengetahuan mata- menunjukkan bahwa kita juga tidak mungkin melihat Allah secara utuh dengan mata kita. Hal ini selaras dengan firman Allah, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui." (Al-An'aam: 103).

Mata walaupun bisa melihatnya, tetapi tidak mungkin bisa mengetahuinya secara detail. Allah memang dapat dilihat secara langsung dengan mata, tetapi dengan penglihatan itu Dia tidak bisa diketahui secara detail; karena Dia terlalu agung untuk diketahui. Demikianlah pendapat para salaf dan mereka melihat bahwa nikmat paling sempurna yang diberikan Allah kepada manusia adalah melihat wajah Allah. Maka dari itu, di antara do'a Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam adalah, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, lezatnya melihat wajah-Mu." (Diriwayatkan An-Nasa'i).

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "lezatnya melihat" karena penglihatan itu memberikan kelezatan yang tidak diketahui kecuali orang yang mengalaminya yang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah. Saya memohon kepada Allah, semoga Dia menjadikanku dan Anda termasuk bagian dari mereka. Itulah hakekat yang disepakati para salaf.

Sedangkan orang yang mengira bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata dan bahwa melihat merupakan ungkapan dari kesempurnaan keyakinan, ini adalah pendapat batil, bertentangan dengan dalil-dalil dan tidak sesuai dengan realitas, karena kesempurnaan keyakinan juga ada di dunia, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dalam menafsirkan kata ihsan, "Ihsan adalah hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, seakan-akan Dia melihatmu."

Jika Anda beribadah kepada Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, ini adalah keyakinan yang sempurna. Sedangkan anggapan yang mengatakan bahwa nash-nash yang diriwayatkan tentang melihat Allah menggambarkan tentang keyakinan yang sempurna, karena orang yang yakin dengan keyakinan yang sempurna seperti orang yang melihat dengan mata kepala, adalah anggapan yang salah dan mengubah nash, bukan takwil tetapi mengubah nash dengan perubahan yang batil yang harus ditolak.

Menjadikan Shalawat untuk Mencari Rizqi



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Bagaimana Hukumnya Menjadikan Bacaan Shalawat Nabi Shallallahu Alahi Wa Sallam Sebagai Sarana Untuk Mencari Rizqi?

Jawaban?

Hukumnya haram dan harus diketahui bahwa orang yang memuji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dibagi menjadi dua:

Pertama, memuji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dengan pujian yang berhak beliau terima tanpa berlebih-lebihan, maka ini boleh hukumnya, atau tidak apa-apa hukumnya memuji Rasulullah dengan sifat-sifat yang terpuji dan sempurna dalam penciptaan dan petunjuknya, yang memang beliau berhak menerimanya.

Kedua, orang yang memuji Rasulullah dengan pujian yang berlebih-lebihan, yang dilarang Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam seraya bersabda, "Janganlah kalian mengagung-agungkanku seperti orang-orang Nasrani yang mengagungkan-agungkan Al-Masih bin Maryam. Sesungguhnya saya adalah hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR Bukhari).

Maka barangsiapa yang memuji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam secara berlebih-lebihan hingga mengatakan bahwa beliau adalah penolong orang-orang yang meminta pertolongan, pengabul do'a orang-orang yang berada dalam kesempitan, raja dunia dan akhirat, beliau mengetahui alam ghaib dan sebagainya, maka ini haram hukumnya, bahkan telah sampai kepada derajat syirik besar yang dapat mengeluarkan dari agama. Maka tidak diperkenankan untuk memuji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan pujian yang berlebih-lebihan sehingga dilarang Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Menjadikan pujian kepada Rasulullah dengan pujian yang diperbolehkan, sebagai pekerjaan untuk mencari rizqi, menurut kami hukumnya juga haram dan tidak boleh, karena memuji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan pujian yang berhak beliau terima, seperti akhlak yang mulia, sifat-sifat yang terpuji, dan petunjuk yang lurus termasuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan ibadah tidak boleh dijadikan wasilah untuk mendapatkan dunia, seperti yang difirmankan oleh Allah, "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Huud: 15-16).

Apakah Jin Mempunyai Pengaruh Kepada Manusia dan Bagaimana Cara Menjaga Diri Dari Pengaruh Jin Itu?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:

Tidak diragukan lagi bahwa jin mempunyai pengaruh terhadap manusia dengan siksaan yang kadang bisa membunuh, misalnya jin menganiaya manusia dengan melemparnya dengan batu atau menakut-nakuti manusia dan sebagainya seperti yang dijelaskan oleh sunnah dan diperkuat oleh realitas. Dijelaskan dalam hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengizinkan kepada salah seorang sahabatnya pulang ke rumah isterinya dalam satu peperangan—saya kira perang Khandaq—sahabat itu masih muda dan baru saja melangsungkan pernikahan. Ketika sampai di rumah tiba-tiba isterinya berada di depan pintu, lalu dia menolaknya. Isterinya berkata kepadanya, "Masuklah, lalu dia masuk ternyata dia adalah ular yang menjulur di atas kasur. Pada saat itu dia membawa tombak, lalu menusuknya dengan tombak itu hingga mati. Seketika itu –atau ketika ular mati- Maka mati pula lelaki itu dan tidak diketahui mana yang lebih dahulu mati, ular atau lelaki itu. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam beliau melarang untuk membunuh jin yang ada di rumah kecuali ular-ular berbisa dan ular-ular yang jahat."

Ini merupakan dalil bahwa jin kadang memusuhi manusia dan mereka kadang juga mencelakai manusia seperti yang biasa terjadi dalam kenyataan. Berita-berita ini mutawatir sifatnya dan banyak jumlahnya bahwa manusia ketika berada di tempat yang angker, kadang dilempar dengan batu sedangkan dia tidak melihat ada manusia di tempat itu, kadang terdengar suara-suara lembut, seperti pohon yang tertiup angin dan sebagainya yang menakutkan dan menganiaya. Begitu juga kadang jin masuk ke dalam tubuh manusia, baik karena cinta atau karena untuk menyakiti atau karena sebab-sebab lain seperti yang difirmankan Allah, "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al-Baqarah: 275). Dalam keadaan seperti ini kadang jin berbicara dari dalam jiwa manusia, menirukan orang yang membaca ayat-ayat Al-Qur'an kepadanya, dan kadang-kadang menantang orang yang membacakan Al-Qur'an kepadanya itu agar dia tidak kembali kepadanya dan sebagainya seperti yang diberitakan dalam hadits-hadits dan berita-berita yang menyebar di kalangan manusia. Dengan demikian, maka cara untuk menjaga dari kejahatan jin itu adalah membaca doa-doa yang dijelaskan di dalam sunah, sehingga dapat menjaga mereka darinya, seperti membaca ayat kursi, karena ayat kursi jika dibaca di malam hari, akan tetap di jaga oleh Allah dan tidak akan didekati oleh syetan hingga pagi.

Penjelasan tentang Takdir



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Ya Syaikh, tolong jelaskan kepada kami tentang masalah takdir? Apakah asal semua tindakan manusia sudah ditakdirkan? Lalu bagaimana manusia memilih pekerjaannya? Misalnya, jika Allah menakdirkan seseorang akan membangun masjid, pasti dia akan membangunnya, tetapi dia tidak melakukannya karena dia tahu bahwa dia diberi pilihan membangun atau tidak terserah kepadanya. Begitu juga kemaksiatan, jika Allah menakdirkan, pasti dia akan melakukan kemaksiatan itu, tetapi dia tidak melakukannya, karena dia tahu bahwa dia diberi pilihan untuk melaksanakan atau tidak terserah kepadanya. Kesimpulannya bahwa manusia diberi pilihan apakah dia akan melaksanakan apa yang ditakdirkan kepadanya ataukah tidak, terserah kepadanya. Apakah pendapat ini benar?


Jawaban:

Masalah takdir merupakan masalah yang selalu diperdebatkan manusia sepanjang zaman, maka dari itu manusia dibagi menjadi tiga bagian: dua bagian di ujung dan satu bagian di tengah. Dua bagian yang ada di ujung itu adalah:

Pertama, orang yang melihat keumuman takdir Allah sehingga dia menafikan adanya tindakan memilih. Dia berpendapat bahwa manusia serba terpaksa dalam pekerjaannya dan tidak mempunyai pilihan apa-apa. Jika ada seseorang jatuh dari atap karena diterpa angina dan sebagainya atau dia turun dengan selamat, semuanya sudah ditetapkan dalam takdir.

Kedua, orang yang berpendapat bahwa manusia melakukan segala sesuatu atau meninggalkannya berdasarkan pilihannya sendiri dan tidak ada hubungannya denga takdir Allah. Dia berpendapat bahwa manusia bebas mengerjakan amalnya dan tidak ada kaitannya dengan takdir Allah di dalamnya.

Ketiga, orang yang bersikap tengah-tengah, lalu melihat kedua sebab itu. Dia melihat keumumam takdir Allah dan juga melihat adanya pilihan manusia. Dia mengetahui secara tegas perbedaan antara jatuhnya manusia dari langit-langit karena angin atau lainnya dan turunya dia darinya karena pilihannya sendiri ataukah karena takdir.

Kelompok ketiga ini tahu bahwa dia jatuh bukan atas pilihannya, tetapi ketika dia turun dari tangga adalah atas pilihannya; tetapi keduanya terjadi karena ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah. Tidak ada sesuatu yang terjadi di bumi Allah ini tanpa diinginkan-Nya, tetapi apa yang terjadi karena pilihan manusia terjadi pada aspek yang bersifat taklif (pembebanan). Maka tidak ada hujjah (alasan) baginya dengan takdir dalam masalah taklif yang diperintahkan dan dilarang. Demikian itu karena ketika dia melakukan pelanggaran, dia tidak tahu apa yang ditakdirkan Allah kepadanya, sehingga ketika dia memilih melakukan pelanggaran itu, dia berhak mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat. Maka dari itu, tatakala dia dipaksa seseorang untuk melanggar, dia tidak dihukum karena pelanggaran itu, karena dia melakukannya secara terpaksa.

Jika manusia tahu bahwa larinya dia dari api menuju tempat yang aman adalah pilihannya, jika menetapnya dia di rumah yang indah dan luas juga berdasarkan pilihannya, tetapi di samping itu dia juga beriman bahwa larinya dia dari api dan menetapnya dia di rumah yang indah itu terjadi karena ketetapan dan takdir Allah; jika dia tetap tinggal di tempat itu akan dilahap api dan jika dia terlambat meninggalkan tempat itu akan celaka dan kehilangan kesempatan sehingga dia akan dicela; mengapa dia tidak tahu masalah ini sehingga meremehkannya dengan meninggalkan factor-faktor yang dapat menyelamatkannya dari neraka dan mengantarkannya ke dalam surga?

Sedangkan permisalan yang digambarkan bahwa jika Allah menakdirkan hamba-Nya mampu membangun masjid maka dia pasti akan membangunnya, tetapi dia tidak melakukannya karena dia tahu bahwa dia diberi pilihan membangun atau tidak terserah kepadanya, ini adalah permisalan yang tidak benar, karena dia menyatakan bahwa membangun tidaknya, hanya ditetapkan berdasarkan akal, tidak masuk di dalamnya takdir Allah, padahal asal pemikiran untuk membangun itu sendiri, hanya ditetapkan berdasarkan takdir dan tidak ada pilihan di dalamnya.

Tetapi asal pemikiran untuk membangun masjid itu juga masuk di dalamnya pilihan manusia, karena dia tidak dipaksa dalam melakukannya, seperti halnya dia tidak dipaksa untuk berfikir membangun kembali rumahnya atau membiarkannya. Tetapi pemikiran itu sendiri, sebenaranya telah ditakdirkan Allah Swt kepadanya melalui cara yang tidak dia sadari, karena itu, dia tidak tahu bahwa Allah telah menetapkan takdir kepadanya sehingga terjadi sesuatu. Takdir addalah rahasia tersembunyi yang tidak seorang pun mengetahuinya, kecuali jika Allah menunjukkannya melalui wahyu atau terjadi secara inderawi. Begitu juga tentang masalah pembangunan masjid tadi, semua itu ditakdirkan oleh Allah, karena Allah telah menakdirkan segala sesuatu baik secara global maupun rinci. Tidak mungkin manusia memilih sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak ditakdirkan-Nya, tetapi jika seseorang memilih sesuatu dan mengerjakannya, sememntara dia tahu dengan yakin bahwa Allah Swt telah menetapkan dan menakdirkannya, maka orang itu diberi pilihan berdasarkan factor-faktor inderawi yang tampak yang telah ditakdirkan Allah sebagai sebab terhjadinya perbuatan itu, sehingga ketika manusia melakukan perbuatan itu dia tidak merasa ada orang lain yang memaksanya berbuat. Jika dia mengerjakan hal itu sesuai dengan factor-faktor yang dijadikan Allah sebagai sebab, berarti baik secara langsung maupun tidak langsung, Allah telah menakdirkannya.

Begitu juga mengenai permisalan yang Anda katakan, tentang orang yang melakukan kemaksiatan, bahwa Allah telah menakdirkannya akan berbuat maksiat dan dia pasti akan melakukannya, tetapi akhirnya dia meninggalkan kemaksiatan itu karena dia tahu bahwa dirinya diberi kebebasan untuk memilih.

Pendapat kami dalam masalah ini sama seperti pendapat kami tentang masalah pembangunan masjid: sesungguhnya takdir Allah yang ditetapkan kepada seseorang untuk berbuat maksiat tidak menafikan pilihannya, karena ketika dia memilih untuk berbuat maksiat itu, dia tidak tahu apa yang ditetapkan Allah kepadanya, sehingga tindakan itu dia lakukan berdasarkan pilihannya dan dia tidak merasa ada orang lain yang memaksanya. Tetapi, ketika orang itu telah melakukan perbuatannya, kita baru tahu bahwa Allah telah menakdirkannya. Begitu juga tentang perbuatan maksiat yang dilakukan seseorang, terjadi karena pilihannya sendiri yang tidak bertentangan dengan takdir Allah, karena Dia telah menakdirkan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung, dan menetapkan segala factor yang menghantarkan seseorang kepada takdirnya. Semua itu tidak menyimpang dari ketetapan Allah dan tidak pula menyimpang dari perbuatan manusia yang bersifat memilih dan terpaksa, seperti yang difirmankan Allah, "Apakah kamu tidak menetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi?;bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab )Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." (Al-Hajj: 70)

Kemudian firman Allah, "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tingalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (Al-An'aam:112)

Kemudian firman Allah, "Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka untuk memebinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi merka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah merka dan apa yang mereka ada-adakan. " (Al-An'aam:137)

Serta firman Allah, "Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang dating) sesudah rasul-rasul itu, sesudah dating kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di anatara mereka yang kafir. Seandainya Allah mengehendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (Al-Baqarah: 253)

Seyogyanya seseorang tidak mencari-cari masalah seperti ini untuk dirinya sendiri maupun orang lain yang dapat menimbulkan gangguan akidah dan menentangka syariat denga takdir. Tindakan semacam ini bukan manhaj para sahabat Nabi, padahal mereka adalah orang-orang yang paling kuat tekadnya dalam memahami realitas dan paling dekat dengan Rasulullah, penepis keraguan dan penghilang kegundahan. Dalam sebuah hadits disebutkan, 'Dari Ali Radhiyallahu ANhu berkata, 'Kami duduk bersama Nabi Saw dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda, 'Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun di surga. 'Salah seorang dari kaum itu bertanya, 'Apakah kita tidak bertawakkal ya Rasulullah.'Beliau menjawab, 'Tidak, ketahuilah behwa semuanya akan dimudahkan.'Kemudian beliau membaca firman Allah, 'Maka barangsiapa yang memberi dan bertakwa…..(ayat) ." (Al-Bukhori dan Muslim) Ditakhrij Al-Bukhori dalam kitab Al-Qadar, wa Kaana Amrullahi Qadaran Maqdura. Muslim, kitab Al-Qadar bab "Kaifiyatu Khalqi Al-Adam fi Bathini Ummihi", [2647)

Dalam satu riwayat disebutkan, "Ketahuilah bahwa semuanya dimudahkan untuk mencapai apa yang dia diciptakan untuknya. Adapun orang yang termasuk ahli bahagia, akan dimudahkan baginya mengerjakan pekerjaan ahli bahagia, sedangkan orang yang ditakdirkan menjadi ahli sengsara, akan dimudahkan baginya mengerjakan amalan orang-orang sengsara." Ditakhrij Al-Bukhori dalam kitab Al-Janaiz, bab "Mau'idzah Al-Muhaddits 'Inda Al-Qubr", [1362] dan Muslim kitab Al-Qadar, bab "Kaifiyatu Khalqi Al-Adami fi Bathni Ummihi", [2647)

Kemudian beliau membaca firman Allah, "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapaun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (Al-Lail: 5-10)

Nabi saw melarang hanya bersandar kepada takdir tanpa berbuat apa-apa, karena jika hanya diam tanpa berbuat, tidak ada jalan untuk mengetahui takdir itu, maka beliau memerintahkan agar seseorang mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuannya, yaitu bekerja dan berdalil kepada ayat yang menunjukkan bahwa orang yang beramal shalih dan beriman maka dia akan dimudahkan Allah melakukannya. Itulah obat mujarab yang membawa hasil, yang di dalamnya seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dan kebahagiaan, yaitu giat beramal shalih yang didasarkan atas keimanan dan merasa gembira dengannya ketika mengikutinya dengan kemudahan di dunia dan akhirat. Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk beramal shalih, semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita, menjauhkan kita dari kesulitan dan mengampuni kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mengabulkan.

Apakah Doa Dapat Mengubah Takdir yang Ditetapkan kepada Manusia sebelum Penciptaannya?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:


Tidak diragukan lagi bahwa doa dapat mengubah takdir, tetapi takdir juga telah menetapkan bahwa perubahan itu akan terjadi karena doa, maka jangan mengira bahwa jika Anda berdoa kepada Allah berarti Anda berdoa dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan, tetapi doa Anda itu sendiri telah ditakdirkan dan apa yang akan terjadi juga telah ditakdirkan. Maka dari itu kita dapati ada seseorang yang membacakan doa kepada orang sakit hingga sembuh. Seperti yang terjadi pada kisah tentang sekelompok pasukan yang diutus Nabi saw , lalu mereka ingin singgah menjadi tamu di suatu kaum, tetapi mereka menolak untuk mereka singgahi.

Lalu ditakdirkan behawa pimpinan kaum itu digigit ular hingga mereka meminta kepada pasukan itu untuk membecakan doa atasnya. Para sahabat (pasukan) itu, menyaratkan upah atas doa yang akan mereka bacakan. Penduduk kaum pun berjanji akan memeberi mereka seekor kambing. Lalu salah seorang dari sahabat membacakan surat Al-Fatihah kepadanya. Maka berdirilah orang yang tergigit ular itu seakan-akan dia lepas dari belenggu, atau seakan-akan dia seekor keledai yang lepas dari ikatan. Dengan demikian doa dapat berpengaruh terhadap kesembuhan orang sakit.

Doa memang mempunyai pengaruh tetapi tidak mengubah takdir, melainkan telah ditetapkan bahwa takdir itu akan berubah dengan doa, karena segala sesuatu di sisi Allah telah ditetapkan. Begitu juga semua factor yang memberikan pengaruh terhadap perubahan-perubahannya atas izin Allah. Semua factor sudah ditentukan dan akibatnya pun telah ditentukan.

Apakah Rizki dan Isteri telah Ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin


Jawaban:

Segala sesuatu sejak Allah menciptakan pena hingga Hari Kiamat, semuanya tertulis dalam Lauhul Mahfudz, karena makhluk yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya, "Tulislah." Pena menjawab, "Tuhanku, apa yang harus aku tulis?" Allah menjawab, "Tulislah apa yang akan terjadi. Maka pada saat itulah, pena menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Kiamat." Ditakhrij oleh Ahmad,V,317.

Dijelaskan dalam hadits shahih dari Nabi saw bahwa janin yang ada di dalam perut ibunya jika telah berusia empat bulan Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, menentukan rizkinya, ajalnya, amalnya, bahagia atau sengsara. Rizki juga ditetapkan berdasarkan sebab-sebab, tidak bertambah dan tidak berkurang. Di antara sebab-sebab (faktor-faktor) untuk mendapatkan rizki adalah dengan bekerja seperti yang difirmankan Allah, "Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkankan."(Al-Mulk:15)

Di antara sebab rizki lainnya adalah menyambung silaturahmi dengan kedua orang tua dan sanak kerabat, karena Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang senang dilapangkan rizkinya dan dianjangkan usianya hendaklah dia menyambung hubungan persaudaraannya." Diatakhrij oleh Al-Bukhori, kitab Al-Buyu', bab "Man Ahabba Al-Busth fi Ar-Rizki", [2067]

Di antara sebab mendapatkan rizki lainnya adalah bertakwa kepada Allah seperti yang difirmankan-Nya, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."(Ath-Thalaq:2-3)

Jangan Anda katakan bahwa rezki telah ditetapkan dan dibatasi sehingga saya tidak perlu melakukan usaha untuk mendapatkannya, karena itu termasuk kelemahan. Anda harus tetap tegar dan bersemangat untuk mendapatkan rezki Anda, karena usaha akan memberikan manfaat bagi Anda, baik dalam agama maupun dunia Anda. Nabi saw bersabda, 'Orang kuat adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan melakukan sesuatu untuk sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan dengan angan-angan yang bermacam-macam terhadap Allah." Ditakhrij At-Tirmidzi kitab Shifath Al-Qiyamah, bab XXV,[2459] dan Ibnu Majah, kitab Az-Zuhd, bab "Dzikr Al-Maut wa Al-Isti'dad lahu",[4260]

Kalau rezki telah ditetapkan dan ditentukan factor-faktornya, begitu juga suami atau isteri juga telah ditetapkan. Setiap suami isteri telah ditetapkan satu sama lain dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di mata Allah, baik di langit maupun di bumi.

Apakah Sihir itu dan Bagaimana Hukum Mempelajarinya?



Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Jawaban:
Menurut para ulama, sihir secara bahasa adalah ungkapan tentang segala sesuatu yang lembut dan tersembunyi sebabnya, serta memiliki pengaruh tersembunyi pula, yang tidak diketahui manusia. Dalam pengertian ini, sihir mencakup peramalan dan perdukunan, bahkan mencakup terhadap bayan dan fashahah, seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, "Sesungguhnya sebagian dari bayan(penjelasan) itu adalah sihir." Ditakhrij oleh Al-Bukhari, kitab An-Nikah, bab "Al-Khutbah." (5146). Segala sesuatu yang memiliki pengaruh tersembunyi disebut sihir.

Sedangkan menurut istilah, sihir diartikan sebagian orang dengan hasrat, mantera, perjanjian yang berpengaruh terhadap hati, akal, dan badan, sehingga mengendalikan akal, menumbuhkan cinta dan benci, lalu memisahkan antara seseorang dengan isterinya, menyakitkan badan dan melupakan akal pikiran."

Mempelajari sihir hukumnya haram bahkan kafir jika wasilahnya bekerja sama dengan syetan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (Al-Baqarah: 102).

Sihir semacam ini, yaitu yang dilakukan dengan cara kerjasama dengan syetan adalah kafir, mempekerjakannya juga kafir, zhalim dan memusuhi makhluk. Maka dari itu seorang penyihir harus dibunuh, baik karena dianggap murtad maupun terjerat hukuman dera. Jika sihirnya sampai kepada batas kekafiran, maka dia harus dibunuh karena murtad dan kafir, tetapi jika sihirnya tidak mencapai derajat kafir maka dia dibunuh karena terjerat hukuman dera untuk mencegah kejahatan yang akan menimpa kaum muslimin.